Pesan singkat itu datang tanpa aba-aba, menerobos dinding lapangan kelas olahraga, dan menghantam seorang anak SMA Kelas X seperti hantaman palu gada. Isinya pendek, namun daya ledaknya luar biasa: Nak, kalau nanti kamu pulang jangan cari ibu ya, mungkin ibu udah gak ada, ibu minta tolong jaga ke 3 adikmu yang masih kecil-kecil ini ya. Bagi sang anak, kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata. Itu adalah sebuah metafora yang paling brutal: perpisahan yang dibungkus kepasrahan, tanggung jawab yang dilemparkan mendadak. Dalam sekejap, lapangan olahraga yang tadinya adalah arena kegembiraan dan keringat, berubah menjadi lapangan ranjau emosi. Bola yang melambung tinggi seolah-olah berhenti di udara, dan suara tawa teman-teman berubah menjadi dengungan jauh yang tak berarti. Dalam sastra dan kehidupan sehari-hari, metafora adalah figur retorika di mana sebuah kata atau frasa digunakan untuk objek atau gagasan yang berbeda untuk menyarankan perbandingan atau kesamaan. Kita menyebu...
Jadilah penerus bangsa yang penuh prestasi-bukan ambisi menikah diusia dini-