Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Mahkota Duri di Pundak Remaja: Ketika Cinta Berubah Jadi Beban Keluarga

Pesan singkat itu datang tanpa aba-aba, menerobos dinding lapangan kelas olahraga, dan menghantam seorang anak SMA Kelas X seperti hantaman palu gada. Isinya pendek, namun daya ledaknya luar biasa:  Nak, kalau nanti kamu pulang jangan cari ibu ya, mungkin ibu udah gak ada, ibu minta tolong jaga ke 3 adikmu yang masih kecil-kecil ini ya. Bagi sang anak, kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata. Itu adalah sebuah metafora yang paling brutal: perpisahan yang dibungkus kepasrahan, tanggung jawab yang dilemparkan mendadak. Dalam sekejap, lapangan olahraga yang tadinya adalah arena kegembiraan dan keringat, berubah menjadi lapangan ranjau emosi. Bola yang melambung tinggi seolah-olah berhenti di udara, dan suara tawa teman-teman berubah menjadi dengungan jauh yang tak berarti. Dalam sastra dan kehidupan sehari-hari, metafora adalah figur retorika di mana sebuah kata atau frasa digunakan untuk objek atau gagasan yang berbeda untuk menyarankan perbandingan atau kesamaan.  Kita menyebu...

Dua Peta di Satu Ranjang: Membaca Retak yang Tak Sama Antara Pria dan Wanita

Pernah nggak sih lo duduk diam, terus mikir, kenapa rasanya pria dan wanita itu seperti datang dari planet yang berbeda, terutama saat sebuah hubungan retak karena pengkhianatan? Gue sering banget. Gue lihat pola yang aneh tapi konsisten. Seolah-olah kita memegang buku peraturan yang beda, membaca peta yang tak sama, meski tidur di ranjang yang sama. Ini bukan soal siapa yang lebih baik atau lebih buruk. Ini soal bagaimana luka menggores kita dengan cara yang berbeda, dan bagaimana kita mencoba menyembuhkannya dengan cara yang sering kali malah saling menyakiti lebih dalam. Paradoks Pengampunan dan Pembalasan Dendam Mari kita jujur pada skenario yang sering kita dengar, bahkan mungkin kita lihat. Seorang wanita, diselingkuhi oleh pasangannya. Dunia seakan runtuh. Tapi kemudian, ada bisikan—bukan cuma dari teman, tapi mungkin dari logika internalnya sendiri: “Tapi dia mapan. Hidupmu terjamin. Anak-anak?” Pada akhirnya, dengan hati yang remuk, banyak yang memilih untuk memaafkan. Bukan ...