Pesan singkat itu datang tanpa aba-aba, menerobos dinding lapangan kelas olahraga, dan menghantam seorang anak SMA Kelas X seperti hantaman palu gada. Isinya pendek, namun daya ledaknya luar biasa:
Nak, kalau nanti kamu pulang jangan cari ibu ya, mungkin ibu udah gak ada, ibu minta tolong jaga ke 3 adikmu yang masih kecil-kecil ini ya.
Bagi sang anak, kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata. Itu adalah sebuah metafora yang paling brutal: perpisahan yang dibungkus kepasrahan, tanggung jawab yang dilemparkan mendadak. Dalam sekejap, lapangan olahraga yang tadinya adalah arena kegembiraan dan keringat, berubah menjadi lapangan ranjau emosi. Bola yang melambung tinggi seolah-olah berhenti di udara, dan suara tawa teman-teman berubah menjadi dengungan jauh yang tak berarti. Dalam sastra dan kehidupan sehari-hari, metafora adalah figur retorika di mana sebuah kata atau frasa digunakan untuk objek atau gagasan yang berbeda untuk menyarankan perbandingan atau kesamaan.
Kita menyebut politisi korup sebagai "tikus berdasi", atau kita bilang "cinta adalah medan perang". Metafora mengambil konsep abstrak—seperti korupsi, cinta, atau dalam kasus ini, kematian dan keputusasaan—dan membungkusnya dalam citra yang konkret, yang langsung menusuk indra dan perasaan.
Namun, pesan Ibu ini adalah metafora kehidupan yang paling kelam. "Mungkin ibu udah gak ada" adalah samudra kegelapan yang tiba-tiba terhampar di hadapan anak itu, menggantikan peta masa depan yang cerah. Kalimat itu tidak hanya berbicara tentang kematian fisik, melainkan juga kematian sebuah figur sentral, berhentinya sebuah poros keluarga. Ia adalah detak jam yang berhenti, menandai transisi yang tak terhindarkan dan menyakitkan. Permintaan "jaga ke 3 adikmu yang masih kecil-kecil ini ya" adalah mahkota duri yang dipaksakan ke kepala remaja belia.
Tanggung jawab yang seharusnya diemban oleh bahu dewasa kini jatuh ke pundak yang masih mencari jati diri, yang seharusnya hanya memikirkan PR dan nilai. Tiga adik yang masih kecil-kecil itu adalah tiga jangkar berat yang menahan perahu kehidupannya agar tidak hanyut, sekaligus menjadi alasan terkuat baginya untuk tidak tenggelam dalam kesedihan.
Reaksi sang anak adalah klimaks dari metafora ini. Ia tidak membalas pesan itu dengan kata-kata; ia meresponsnya dengan tindakan yang lebih keras dan jelas dari bahasa apa pun: ia berlari ke wali kelasnya dan menangis meraung-raung. Lari dan tangisan itu adalah pecahnya bendungan emosi yang selama ini mungkin tak ia sadari keberadaannya. Ia adalah simbolisasi sempurna dari kepanikan seorang anak yang dunianya tiba-tiba terbalik, sebuah teriakan keputusasaan dari palung hati yang paling dalam.
Fenomena ini mengingatkan kita betapa seringnya orang tua, dalam tekanan hidup yang berat—ekonomi, rumah tangga, atau perasaan tak berdaya—menggunakan anak sebagai tempat untuk "membuang" emosi. Anak bukanlah tong sampah untuk masalah yang terpendam, apalagi sasaran tembak dari "ancaman halus" seperti itu.
Secara psikologis, pesan "mungkin ibu udah nggak ada" bukanlah curhat, melainkan sebuah kalimat yang berpotensi melahirkan trauma seumur hidup. Anak itu panik, dan segera meminta izin pulang, sementara semua orang di sekitarnya hanya bisa terdiam. Anak SMA yang seharusnya berkutat dengan ujian dan masa depan, kini harus menanggung beban rasa takut akan kehilangan orang yang paling disayanginya.
Ini bukanlah cinta, melainkan beban emosional yang tak adil. Luka batin yang ditimbulkan bisa sangat dalam: rasa bersalah yang tak terobati, perasaan harus menjadi dewasa terlalu cepat untuk "menjaga" semua orang, atau sebaliknya, ketakutan mendalam untuk menjalin kedekatan karena trauma ditinggalkan.
Semua dampak ini bisa muncul hanya dari satu pesan yang diketik di tengah keputusasaan. Memang, kita tidak bisa menghakimi si ibu. Mungkin ia sedang berada di titik paling gelap dalam hidupnya, merasa sendirian dan tak punya tempat cerita. Namun, anak bukanlah penyembuh luka, bukan pula penanggung jawab atas emosi orang tua yang belum terselesaikan.
Kadang, yang paling dibutuhkan adalah pelukan, atau sekadar keheningan yang suportif, alih-alih kata-kata eksplosif seperti "ibu udah nggak kuat." Dunia kini aneh; orang makin gampang berbicara di chat, tapi makin sulit menyambungkan hati. Semua ingin didengar, namun lupa cara berbicara tanpa menyakiti. Dan yang paling ironis, yang paling sering menjadi korban adalah anak-anak—yang bahkan belum sepenuhnya mengerti mengapa orang tuanya bisa sesedih itu.
Hidup itu sendiri adalah sebuah antologi metafora. Kita tidak selalu mengatakan apa yang kita maksud secara harfiah. Kita menggunakan kiasan untuk mengekspresikan kedalaman rasa sakit, cinta, harapan, dan ketakutan yang terlalu besar untuk diucapkan dengan kata-kata biasa. Bagi anak itu, hari itu, ia belajar bahwa metafora bukanlah sekadar pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.
Metafora adalah bahasa dari krisis eksistensial, di mana satu kalimat sederhana sang ibu mampu mengubah seorang siswa menjadi kepala keluarga yang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Ia adalah pemahaman yang pahit tentang betapa rapuhnya batas antara rutinitas sekolah yang normal dan tragedi personal yang mengintai di balik layar ponsel.
Kita semua hidup dalam dan melalui metafora. Kita hanya perlu memastikan bahwa metafora yang kita hadapi adalah lentera harapan, bukan palu yang menghancurkan. Dan bagi anak itu, semoga air matanya hari itu menjadi air bah yang membersihkan jalan, agar ia bisa mengambil "mahkota duri" itu, dan dengan kekuatan baru, mengubahnya menjadi simbol ketahanan seorang kakak, seorang anak, dan seorang pejuang.
Cinta harusnya menjadi tempat pulang yang aman, bukan sesuatu yang membuat kita lari sambil takut kehilangan.
Komentar
Posting Komentar