Langsung ke konten utama

🎭 Panggung Kelas dan Topeng Kekalahan: Sebuah Monolog Elara

Di kursi guru, Elara merasa seperti seorang aktor yang salah kostum. Kepalanya bukan lagi berisi rencana pelajaran, melainkan kabut tebal sisa "audit kinerja" dari para Menteri Senioritas di ruangan sebelah. Mereka datang dengan niat mulia, membawa obor kearifan yang cahayanya terlalu terang sampai membakar telinga.

Inti dari dekrit mereka? "Kapten Kapal tidak boleh terlihat menunduk di hadapan Anak Buah."

"Nona Elara, kamu adalah arsitek di ladang ini. Jangan biarkan tunas-tunas muda itu menawar fondasi bangunanmu. Kelembutanmu itu bukan empati, tapi tiket gratis bagi kenakalan," begitulah kira-kira terjemahan halus dari titah mereka.

Tentu, dia mengangguk. Dia tahu, sebagian dari sifatnya—yang mereka sebut "Jubah Kesabaran"—memang bolong di sana-sini. Ketika dia menyajikan kebaikan sebagai hidangan penutup, siswa malah menganggapnya prasmanan gratis untuk melunjak. Ketika dia mencoba memetik pemahaman dari pohon kenakalan mereka, mereka malah melempar buah busuk logika yang diputarbalikkan.

😩 Logika Perang Dingin Sang Penjaga Gerbang

Inilah labirin yang menjebak Elara: Dia adalah jenderal yang alergi terhadap suara tembakan.

Saat sirene konflik berbunyi di arena kelas, benteng psikologisnya langsung runtuh. Dia tidak bisa mendadak mengenakan baju besi 'kekuasaan' yang berkilauan itu. Yang ada di benaknya adalah: Jangan sampai terjadi gempa bumi. Jangan sampai meriam kata-kata keluar dari mulut saya. Dan yang paling penting, jangan sampai mereka mencoret saya dari daftar 'Guru Favorit' karena dianggap 'Penjahat Berwibawa.'

Maka, dia memilih jalan sunyi para pecundang: menyerahkan bendera putih verbal demi ilusi ketenangan. Dia menunda perang, menimbun konflik itu di gudang bawah sadarnya, karena dia takut pada guntur. Baginya, mengalah adalah semacam 'asuransi emosional' untuk memastikan dia bisa bangun dan mengajar lagi esok hari tanpa harus kehilangan sehelai rambut pun karena stres.

🙅‍♂️ Kisah Para Penguasa Zaman Batu

Yang membuat Elara ingin membanting pintu (tapi tentu saja tidak dia lakukan, demi citra 'guru sabar') adalah seni menggurui yang mereka praktikkan. Rasanya mereka lupa, bahwa di balik senyum dan jeans yang dia pakai, ada alasan kenapa dia memilih berdiplomasi alih-alih berkonfrontasi.

"Usiamu adalah dosa pertamamu di ruangan ini, nona. Kamu kurang minum air wibawa,"—kira-kira begitulah kutipan tak tertulis dari mata mereka.

Dia hanya ingin berbisik, bahwa 'toleransi'nya adalah resep yang dia racik sendiri untuk membuat siswa tetap bernapas di tengah jam pelajaran yang membosankan, bukan karena dia kekurangan vitamin ketegasan. Tapi setiap kali dia membuka mulut untuk menjelaskan, mereka menutupnya dengan palu godam pengalaman: "Kami sudah melihat pergantian musim belasan kali. Kamu baru melihat embun pagi."

Dia tahu, dia butuh pedang, bukan ranting. Dia perlu aura yang membuat para siswa mengira dia adalah petugas bea cukai yang berhati dingin saat mereka mau menyelundupkan ponsel. Tapi, bisakah dia menjadi agen rahasia ketegasan tanpa harus berubah menjadi monster birokrasi di hati mereka? Bisakah dia mendapatkan 'wibawa' tanpa harus menjadi replika otoritas zaman batu yang sudah usang?

Ini adalah panggung sandiwara yang melelahkan. Di satu sisi, dia berusaha keras agar Topeng Kekalahan tidak retak di hadapan siswa. Di sisi lain, dia juga berusaha keras agar Topeng Kepatuhan tidak terlepas di hadapan para senior yang selalu memegang buku panduan kesempurnaan.

Elara hanya ingin menjadi matahari yang hangat sekaligus alarm yang keras. Namun, sepertinya, untuk mencapai status dewa keseimbangan itu, dia harus memenangkan perang batin melawan citra 'guru yang baik' versus 'guru yang berkuasa'.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

💔 Gagal Paham Ibadah Gara-Gara Kakek-Kakek di Surau? Belajar Realita dari Cerpen Jadul! 🤯

Cerita pendek atau cerpen itu lebih dari sekadar tumpukan kata fiksi. Itu adalah cermin mini dari kehidupan kita, lengkap dengan segala drama, konflik, dan pertanyaan eksistensial. Kalau kamu anak muda yang suka scroll TikTok sambil mempertanyakan makna hidup, atau mungkin lagi bingung membedakan antara tujuan dan tuntutan hidup, coba deh tengok cerpen klasik Indonesia, "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis . Dengerin baik-baik: cerpen jadul ini ternyata punya pelajaran super relatable buat kita soal realitas sosial —kenapa kita berpikir seperti sekarang, kenapa lingkungan membentuk kita, dan kenapa kadang idealisme kita bertabrakan sama kenyataan. Intinya, kita akan bongkar cerpen ini pakai kacamata Teori Konstruksi Realitas Sosial dari Berger dan Luckmann. 🧐 Momen 'Eksternalisasi': Si Kakek Penjaga Surau dan Vibes Ikhlas yang Ngenes Pernah merasa identitasmu terbentuk karena cara orang lain melihatmu? Nah, ini yang namanya Eksternalisasi . Ini adalah proses d...

Wajah Tunggal yang Mengatur Dunia

Ada banyak orang yang merasa dirinya terlalu jujur untuk bisa bermuka dua. Mereka berkata dengan lantang, “Aku gak bisa pura-pura,” seolah ketidakmampuannya menyembunyikan perasaan adalah bentuk keutamaan moral. Mereka merasa menjadi sosok yang paling tulus, paling apa adanya, paling berani menunjukkan luka. Padahal, tanpa mereka sadari, kejujuran yang mereka banggakan itu sering kali berubah menjadi bentuk halus dari kendali terhadap orang lain. Mereka terbiasa menganggap ekspresi emosi sebagai bukti keaslian diri. Jika marah, harus terlihat marah. Jika kecewa, harus langsung dikatakan. Jika tersakiti, harus segera diungkapkan. Di kepalanya, menahan diri berarti berbohong; diam berarti palsu. Padahal, di dunia yang sesungguhnya, tidak semua emosi pantas diumbar, dan tidak semua kejujuran perlu dibuka tanpa kendali. Ada bentuk kejujuran yang justru tumbuh dari kemampuan menahan diri, dari kesadaran bahwa kebenaran tidak selalu harus diucapkan dengan nada tinggi. Orang yang merasa tidak...