Di sudut ruang diskusi yang berdebu—tempat waktu seolah enggan beranjak dari lembaran usang sejarah—bersemayamlah dua sosok yang bertukar pandang tentang sebuah misteri abadi: Ontologi Puisi.
Sosok itu, yang akan kita sebut Puan Senja, seorang pemerhati aksara dengan sorot mata secerah neon di malam metropolitan, duduk berhadapan dengan Tuan Guru Sejarah, Bapak Purwa. Bapak Purwa, dengan janggut tipis dan kacamata yang selalu melorot, adalah seorang pengawal setia kronik masa lalu.
Puan Senja, sang penjelajah makna di balik tirai kata, tengah menyajikan argumennya tentang eksistensi "nyawa" puisi. Ia menguraikan, dengan ritme yang meliuk, bahwa puisi bukanlah sekadar barisan huruf yang berpelukan, melainkan sebuah Monolog Semesta yang direkam oleh kalbu penyair.
"Puisi," ujar Puan Senja, suaranya seperti seruling yang ditiup angin gurun, "adalah sisa-sisa percakapan yang tak pernah terjadi dengan Tuhan, atau mungkin, desahan sunyi di hadapan cermin yang tak memantulkan apa-apa."
Bapak Purwa, sang guru yang terbiasa dengan fakta dan tanggal yang tertancap kokoh, hanya menyimak dengan dahi berkerut, seolah mencoba mencocokkan metafora Puan Senja dengan garis waktu di bukunya. Dalam benak Puan Senja, terbersit sekelebat pikiran satir: Tentu saja sang penjaga masa lalu akan kesulitan mengerti peta jalan menuju jiwa. Ia hanya melihat tulang-belulang, bukan arwah yang menari di atasnya.
Diskusi kemudian beringsut ke palung yang lebih pekat: Mengapa ada puisi? Dan, lebih menusuk lagi, Apakah generasi hari ini, yang jarinya lebih cekatan menari di atas layar kaca daripada di atas halaman kertas, masih 'terkait' dengan pembelajaran puisi?
Bapak Purwa, dengan nada yang diplomatis, menyajikan data dan teori. Ia berbicara tentang fungsi didaktis, tentang keindahan bahasa yang baku, seolah puisi adalah monumen yang wajib dikagumi dari kejauhan, bukan rahim tempat emosi dilahirkan.
Puan Senja menarik napas, diam-diam menyematkan duri halus pada setiap kata yang ia biarkan lolos.
Ah, Tuan Guru Sejarah. Puan Senja membatin. Anda sibuk mencari cetak biru Puisi di ruang arsip, padahal Puisi itu adalah asap yang mengepul dari bara hati yang terbakar, bukan formulir yang harus diisi lengkap. Anda menyuruh anak-anak zaman ini merangkai kembang dari batu nisan, sementara mereka hanya ingin melempar cangkang sinyal ke angkasa, menunggu gema yang relevan.
Ia tersenyum tipis, sebuah isyarat yang hanya bisa diterjemahkan oleh angin yang menyelinap dari jendela.
"Generasi hari ini," balas Puan Senja, "tidaklah tuli. Mereka hanya memiliki frekuensi sunyi yang berbeda. Mereka mencari Monolog yang sama, tetapi di kanal yang lain. Mereka tidak lagi mencari puisi yang menjelaskan zaman, Tuan, tetapi puisi yang menjeritkan kegelisahan mereka sendiri di tengah lautan data."
Bapak Purwa mengangguk, namun matanya memancarkan keraguan. Ia tampak seperti seorang nakhoda yang mencoba membaca bintang dengan menggunakan peta jalan tol.
Bukankah ironi yang paling pedih itu adalah ketika para pengajar sastra sendiri yang memperlakukan puisi seperti mayat yang harus dibedah, alih-alih sebagai jantung yang masih berdetak liar? batin Puan Senja, merasa ada jarak tak terukur antara dirinya, sang Guru Sejarah, dan kursi kosong milik 'anak zaman' yang menjadi topik perdebatan.
Mereka berdua, Puan Senja dan Bapak Purwa, hanyalah dua gerbang menuju satu rumah yang sama—Sastra. Namun, yang satu sibuk menanyakan asal-usul kayu, sementara yang lain meratap karena tak ada lagi yang mau mendiami rumah itu dengan nyanyian baru. Dan di antara dua sudut pandang itu, sang Ontologi Puisi terus tertawa, mengepul sebagai uap tak kasat mata, hanya tercium oleh mereka yang berani mengakui bahwa tak semua hal harus memiliki nama dan tanggal lahir.
Komentar
Posting Komentar