Cerita pendek atau cerpen itu lebih dari sekadar tumpukan kata fiksi. Itu adalah cermin mini dari kehidupan kita, lengkap dengan segala drama, konflik, dan pertanyaan eksistensial. Kalau kamu anak muda yang suka scroll TikTok sambil mempertanyakan makna hidup, atau mungkin lagi bingung membedakan antara tujuan dan tuntutan hidup, coba deh tengok cerpen klasik Indonesia, "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis.
Dengerin baik-baik: cerpen jadul ini ternyata punya pelajaran super relatable buat kita soal realitas sosial—kenapa kita berpikir seperti sekarang, kenapa lingkungan membentuk kita, dan kenapa kadang idealisme kita bertabrakan sama kenyataan. Intinya, kita akan bongkar cerpen ini pakai kacamata Teori Konstruksi Realitas Sosial dari Berger dan Luckmann.
🧐 Momen 'Eksternalisasi': Si Kakek Penjaga Surau dan Vibes Ikhlas yang Ngenes
Pernah merasa identitasmu terbentuk karena cara orang lain melihatmu? Nah, ini yang namanya Eksternalisasi. Ini adalah proses di mana kita (sebagai individu yang 'belum selesai' saat lahir) terus-menerus mencurahkan diri dan aktivitas kita ke dunia luar, dan dunia itu kemudian membentuk kita kembali.
Dalam cerpen, ada tokoh Kakek, si penjaga surau (garin) yang juga mahir mengasah pisau.
"Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu... Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau... Orang-orang perempuan... memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki... memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum."
Kakek ini hidup dari apa yang masyarakat 'kasih'. Identitasnya (garin yang ikhlas, pengasah pisau yang sabar) adalah hasil dari lingkungan yang minim apresiasi. Kakek tidak menuntut, jadi masyarakat 'menganggap wajar' hanya memberi sedikit senyum.
Kalau kamu sering dimintai bantuan tanpa dibayar ('cuma bantu teman' atau 'konten kreator pemula'), atau sering dinilai berdasarkan followers atau likes-mu, kamu sedang mengalami proses eksternalisasi. Lingkunganmu menentukan 'harga' dan 'nilai' dirimu. Kakek adalah contoh bagaimana kepribadian ikhlas dan sabar terbentuk dari realitas sosial yang 'pelit' dalam memberi imbalan.
😠 Momen 'Objektivasi': Haji Saleh dan Toxic Positivity Ibadah yang Berujung Tuntutan
Objektivasi terjadi ketika produk dari aktivitas manusia (seperti ide, institusi, atau aturan) memperoleh sifat objektif dan berdiri di luar diri kita sebagai fakta yang harus kita ikuti. Kita menciptakannya, tapi akhirnya kita sendiri yang harus tunduk padanya.
Dalam cerita, ini paling jelas terlihat pada Haji Saleh yang ada di neraka (kisah si pembual). Ia adalah simbol dari pemahaman beribadah yang sudah terlembagakan atau diobjektivasi secara keliru di masyarakat:
"O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap- Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyem-bah-Mu... kami menuntut agar hukuman yang Kau jatuhkan kepada kami ditinjau kembali..."
Haji Saleh dan teman-temannya sudah mengobjektivasi ibadah sebagai transaksi timbal balik yang pasti. "Aku sudah taat, aku sudah hafal kitab, therefore aku wajib masuk surga!" Mereka memandang diri mereka sebagai objek yang harus mendapat balas jasa atas kepatuhan. Mereka beribadah bukan karena cinta atau kesadaran penuh akan tugas kemanusiaan (bekerja, peduli sesama), tapi karena tuntutan (norma) yang mereka ciptakan sendiri.
Ini mirip dengan fenomena 'budaya hustle' di media sosial. Objektivasi bisa berupa keyakinan bahwa 'kalau kamu nggak overworked, kamu nggak akan sukses' atau 'skincare ini pasti bikin cantik karena semua orang pakai'. Kita menciptakan standar itu, lalu kita diperbudak oleh standar itu sendiri. Realitas objektif yang salah (ibadah melulu pasti benar) menjebak Haji Saleh, persis seperti standar kecantikan yang nggak realistis menjebak banyak remaja.
😔 Momen 'Internalisasi': Kakek yang Bunuh Diri Setelah Realitasnya Runtuh
Internalisasi adalah proses ketika realitas objektif dan simbolik yang ada di luar diri kita (Eksternalisasi + Objektivasi) diserap dan diterima sebagai kebenaran subjektif dalam kesadaran kita. Kita menjadi apa yang kita yakini.
Kutipan yang menggambarkan ini adalah saat Kakek mendengar cerita tentang Haji Saleh:
"Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia dibawa ke neraka... ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri... Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga."
Saat Kakek mendengar cerita si Pembual (yang menarasikan ulang 'realitas Tuhan' yang berbeda), seluruh dunia subjektif Kakek runtuh. Kakek yang selama ini meyakini bahwa beribadah melulu = surga tiba-tiba melihat 'bukti' bahwa rumus itu salah. Ia menginternalisasi realitas baru (ibadah tanpa kerja/peduli sesama = neraka) yang sangat bertentangan dengan realitas lamanya.
Hasilnya? Kakek yang sudah sangat mengidentifikasi dirinya dengan surau dan ibadah, merasa dirinya tidak berarti lagi. Internalisasi realitas baru yang destruktif (dibanding realitas lama yang dogmatis) membuatnya putus asa dan bunuh diri.
Ini terjadi saat kita mengalami krisis identitas. Ketika kamu menyerap semua template kesuksesan dari internet (Objektivasi), dan tiba-tiba menyadari itu nggak berhasil buatmu, kamu bisa merasa lost dan depresi. Kisah Kakek mengajarkan kita bahwa realitas yang kita serap (internalisasi) haruslah yang seimbang, tidak hanya fokus pada satu aspek (ibadah/ibadah), tapi juga pada tugas kemanusiaan (kerja, peduli, dan hidup efektif).
💡 Jangan Sampai Surau-mu Roboh!
"Robohnya Surau Kami" adalah pengingat keras bahwa kita harus kritis terhadap realitas yang kita terima. Realitas (ibadah yang benar) bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan sesuatu yang terus dikonstruksi (Eksternalisasi), disepakati (Objektivasi), dan dipercaya (Internalisasi).
Jangan hanya jadi garin yang pasrah menerima senyum dan sambal (eksternalisasi), jangan hanya jadi Haji Saleh yang menuntut balas karena ikut aturan mati-matian (objektivasi), tapi jadilah individu yang memahami tujuan hidup yang seimbang. Gunakan waktumu untuk bekerja, peduli, dan bermanfaat, bukan hanya untuk mengikuti dogma tanpa makna.
🎭 Ironi dan Pesan Moral dalam Karakter
Cerpen A.A. Navis ini memang sengaja menciptakan kontras tajam untuk menyindir realitas sosial keagamaan yang sempit pada masanya, dan ironisnya, masih relevan sampai sekarang.
1. Kakek (Simbol Ketaatan yang Pasif)
| Aspek | Deskripsi | Ironi/Sindiran | Pesan Moral |
| Identitas | Penjaga Surau (Garin) dan Pengasah Pisau. | Ia dikenal sebagai Pengasah Pisau, bukan sebagai Garin. Artinya, fungsi profan (duniawi) Kakek lebih dihargai dan diakui oleh masyarakat daripada fungsi religius-nya. | Keseimbangan Duniawi dan Ukhrawi: Ibadah ritual saja tidak cukup jika tidak disertai dengan fungsi sosial dan ekonomi yang efektif. Hidup harus menghasilkan sesuatu yang konkret selain doa. |
| Rezeki | Hanya mengandalkan sedekah, seperempat hasil kolam, dan fitrah. | Kakek memilih hidup miskin dan pasif karena keyakinan bahwa kesalehan menjamin segalanya. Ia melalaikan tugas kemanusiaan untuk bekerja keras. | Tanggung Jawab Dunia: Manusia diciptakan untuk menjadi Khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi. Ketaatan tidak berarti pasrah pada kemiskinan; itu berarti berusaha mengubah nasib dan lingkungannya. |
| Akhir Hidup | Bunuh diri setelah realitasnya runtuh. | Orang yang paling taat beribadah dan menjaga rumah Tuhan justru berakhir tragis karena gagal menginternalisasi makna ibadah yang lebih luas. | Pentingnya Pemahaman Utuh: Jangan hanya menerima dogma secara harfiah. Makna agama harus meluas mencakup kepedulian sosial, keluarga, dan kerja keras. Kegagalan Kakek adalah kegagalan sistem pemahaman agamanya sendiri. |
2. Haji Saleh (Simbol Dogma dan Sikap Menuntut)
| Aspek | Deskripsi | Ironi/Sindiran | Pesan Moral |
| Klaim Diri | Mengaku sebagai umat yang "paling taat", hafal kitab, dan memuji kebesaran Tuhan. | Ia menganggap ibadah sebagai kontrak bisnis dengan Tuhan. Ia menuntut surga sebagai hak atas kepatuhannya, bukan sebagai anugerah atas kesucian hati dan perbuatan. | Ikhlas vs. Transaksi: Ibadah sejati didasarkan pada cinta dan pengabdian tulus, bukan pada harapan balasan semata. Tuhan tidak "mabuk pujian" dan tidak butuh ibadah kita. |
| Kesalahan | Hanya sibuk menyembah dan mengabaikan urusan dunia, membiarkan anak cucu miskin dan kelaparan. | Ironi terbesarnya adalah ia fokus pada Tuhan tapi gagal mencintai ciptaan Tuhan (sesama manusia, terutama keluarganya). | Kemanusiaan adalah Ibadah: Perintah untuk berbuat baik kepada sesama, bekerja menafkahi keluarga, dan menjaga lingkungan adalah esensi dari ajaran agama. Ketaatan tanpa kepedulian sosial adalah kosong. |
| Reaksi di Neraka | Kaget, tidak mengerti, dan menuntut peninjauan kembali hukuman. | Meskipun di neraka, ia tetap menunjukkan kesombongan dan egoisme dengan merasa diri paling benar dan menyalahkan Tuhan. | Introspeksi Diri: Kegagalan beragama sering kali datang dari fanatisme dan perasaan paling suci, yang menumpulkan empati dan akal sehat. Haji Saleh gagal menyadari kesalahannya bahkan di hadapan realitas hukuman. |
🎯 Inti Sindiran AA Navis
Pesan utama yang disampaikan AA Navis adalah kritik terhadap formalitas beragama yang mengabaikan substansi kemanusiaan. Melalui kedua tokoh ini, ia menunjukkan bahaya dari:
Ketaatan yang Pasif (Kakek): Memilih jalan sunyi, melepaskan tanggung jawab dunia, dan berujung pada kehancuran diri.
Dogma yang Egois (Haji Saleh): Mengubah ibadah menjadi senjata untuk menuntut surga, melupakan bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk berkarya dan berinteraksi secara efektif di dunia.
Kisah "Robohnya Surau Kami" adalah pengingat bahwa ibadah tertinggi mungkin terjadi saat kita bekerja keras, peduli pada sesama, dan menjadi efektif dalam lingkungan, bukan hanya saat kita bersujud di rumah ibadah.
Sumber Ilmu :
Berger, Peter L. & Thomas Luckmann 1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan: Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan (diterjemahkan dari buku asli The Social Construction of Reality oleh Hasan Basari). Jakarta: LP3ES.
Berger, Peter L. & Thomas Luckmann 1992. Pikiran Kembara: Modernisasi dan Kesadaran Manusia (diterjemahkan dari buku asli The Homeless Mind: Modernization and Consciousness). Yogyakarta: Kanisius.
Berger, Peter L. & Thomas Luckmann 1994. Langit Suci: Agama sebagai Realitas Sosial (diterjemahkan dari buku asli Sacred Canopy oleh Hartono). Jakarta: Pustaka LP3ES.
Dimyati, Mohammad. 2000. Penelitian Kualitatif: Paradigma, Epistemologi. Pendekatan, Metode, dan Terapan (Malang: IPTI dan UNM)
Komentar
Posting Komentar