Langsung ke konten utama

IDENTIFIKASI VARIASI BAHASA DALAM BINCANG BUKU

IDENTIFIKASI VARIASI BAHASA (KOSAKATA, FRASA, KALIMAT) DALAM BINCANG BUKU “ROMANSA TAKJIL”

KATEGORI

KOSAKATA

FRASA

KALIMAT

FUNGSIOLEK

Eropasentris

Romansa

Puitika

Islamisentris

Aliran sastra

Sastra serius

Sastra populer

Seniman sejati


SOSIOLEK

Legitimasi

Diksi

Interpretasi

Analogi

Insya Allah

Story WA

Story Instagram

Tokoh sastra

“Kula rumiyin”

DIALEK

Ngapunten

Cuman

Nggeh

Monggo

Ngeri eh

Arek Uner

Matur nuwun

Nuwun sewu

“Saya share materine pak”


IDENTIFIKASI VARIASI BAHASA DAERAH DAN VARIASI BAHASA ASING OLEH PENUTUR DALAM BINCANG BUKU “SEKAR MATA SAUJANA”

PENUTUR – ASAL

VARIASI BAHASA DAERAH

VARIASI BAHASA ASING

PAK ONI – BOJONEGORO

tak bukaknya dulu ya, sebentar” (11:17)

diugemi lek bahasa jawa nya itu” (19:10)

“lakukan dengan guyon-guyon tapi menghasilkan” (35:32)

“ini mungkin sangking bersemangatnya ya” (37:37)

“kehidupan four point O” (13:57)

“mohon maaf untuk yang lain bisa di mute dulu?” (14:49)

“semuanya akan terframing dalam cinta” (19:58)

“memberikan stressing point yang kuat disitu” (21:02)

“itu sering ada yang namanya clickbait ya” (28:26)

“ada barrier-barrier” (30:30)

“yang itu point of view dari berbagai kalangan” (36:43)

“ini saya membandingkan author is dead dengan author is still live” (37:55)

BU DIAN – JEMBER

“terima kasih, mbak moderator” (40:47)

“mungkin pernah ngintip saya sesekali” (42:36)

opo se Andik iki, Andik iki opo ae” (50:59)

sek sek sek, terus opo neh ngisore” (51:07)

terus piye” (51:11)

iyo ta?” (51:19)

“membuat juga menjadi makjleb” (55:45)

“buku ini triadic bukan dyadic” (46:24)

to be or not to be” (53:37)


SUMBER :

KOMKACENEL. 2021, 8 Mei. Bedah Buku "Romansa Takjil" [Video]. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=C9BW6CB4DWY 

KOMKACENEL. 2021, 11 Mei. Bincang Buku "Sekar Mata Saujana" [Video]. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=S2EtR70Ol_Y 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

πŸ’” Gagal Paham Ibadah Gara-Gara Kakek-Kakek di Surau? Belajar Realita dari Cerpen Jadul! 🀯

Cerita pendek atau cerpen itu lebih dari sekadar tumpukan kata fiksi. Itu adalah cermin mini dari kehidupan kita, lengkap dengan segala drama, konflik, dan pertanyaan eksistensial. Kalau kamu anak muda yang suka scroll TikTok sambil mempertanyakan makna hidup, atau mungkin lagi bingung membedakan antara tujuan dan tuntutan hidup, coba deh tengok cerpen klasik Indonesia, "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis . Dengerin baik-baik: cerpen jadul ini ternyata punya pelajaran super relatable buat kita soal realitas sosial —kenapa kita berpikir seperti sekarang, kenapa lingkungan membentuk kita, dan kenapa kadang idealisme kita bertabrakan sama kenyataan. Intinya, kita akan bongkar cerpen ini pakai kacamata Teori Konstruksi Realitas Sosial dari Berger dan Luckmann. 🧐 Momen 'Eksternalisasi': Si Kakek Penjaga Surau dan Vibes Ikhlas yang Ngenes Pernah merasa identitasmu terbentuk karena cara orang lain melihatmu? Nah, ini yang namanya Eksternalisasi . Ini adalah proses d...

Wajah Tunggal yang Mengatur Dunia

Ada banyak orang yang merasa dirinya terlalu jujur untuk bisa bermuka dua. Mereka berkata dengan lantang, “Aku gak bisa pura-pura,” seolah ketidakmampuannya menyembunyikan perasaan adalah bentuk keutamaan moral. Mereka merasa menjadi sosok yang paling tulus, paling apa adanya, paling berani menunjukkan luka. Padahal, tanpa mereka sadari, kejujuran yang mereka banggakan itu sering kali berubah menjadi bentuk halus dari kendali terhadap orang lain. Mereka terbiasa menganggap ekspresi emosi sebagai bukti keaslian diri. Jika marah, harus terlihat marah. Jika kecewa, harus langsung dikatakan. Jika tersakiti, harus segera diungkapkan. Di kepalanya, menahan diri berarti berbohong; diam berarti palsu. Padahal, di dunia yang sesungguhnya, tidak semua emosi pantas diumbar, dan tidak semua kejujuran perlu dibuka tanpa kendali. Ada bentuk kejujuran yang justru tumbuh dari kemampuan menahan diri, dari kesadaran bahwa kebenaran tidak selalu harus diucapkan dengan nada tinggi. Orang yang merasa tidak...

🎭 Panggung Kelas dan Topeng Kekalahan: Sebuah Monolog Elara

Di kursi guru, Elara merasa seperti seorang aktor yang salah kostum. Kepalanya bukan lagi berisi rencana pelajaran, melainkan kabut tebal sisa "audit kinerja" dari para Menteri Senioritas di ruangan sebelah. Mereka datang dengan niat mulia, membawa obor kearifan yang cahayanya terlalu terang sampai membakar telinga. Inti dari dekrit mereka? "Kapten Kapal tidak boleh terlihat menunduk di hadapan Anak Buah." "Nona Elara, kamu adalah arsitek di ladang ini. Jangan biarkan tunas-tunas muda itu menawar fondasi bangunanmu. Kelembutanmu itu bukan empati, tapi tiket gratis bagi kenakalan," begitulah kira-kira terjemahan halus dari titah mereka. Tentu, dia mengangguk. Dia tahu, sebagian dari sifatnya—yang mereka sebut "Jubah Kesabaran"—memang bolong di sana-sini. Ketika dia menyajikan kebaikan sebagai hidangan penutup, siswa malah menganggapnya prasmanan gratis untuk melunjak. Ketika dia mencoba memetik pemahaman dari pohon kenakalan mereka, mereka malah m...