Langsung ke konten utama

HEMOFILIA BAHASA : Plagiasi “Momok” Bagi Penulis?



Hemofilia Bahasa

Padanan kata sangat penting bagi penulis. Utamanya mahasiswa, mereka yang acapkali disebut sebagai “pejuang skripsi” merasa memilih dan memilah diksi menjadi apresiasi demi hasil jerih payah diri sendiri. Kata-kata yang terpaut dengan kata yang lain menjadi sangat penting diperhatikan agar tidak terjadi kesamaan padanan kata dengan tulisan karya orang lain. Kebutuhan akan kosakata bagi mahasiswa saat ini bak hemofilia bahasa yang menjadi momok menjelang skripsi. Hemofilia bahasa sendiri menaruh arti kias yang menunjukkan bahwa ketika menulis, bahasa memiliki kosakata yang menjadi kebutuhan pokok dalam pemilihan diksi (yang terus-menerus dipadu-padankan) agar tidak terjadi tumpang tindih makna antara tulisan original karya pribadi dengan tulisan karya orang lain yang telah ada sebelumnya.

Tidak hanya pada tatanan morfem, sejenis frasa, klausa, kalimat, hingga wacana juga menjadi sorot utama layanan program detektor plagiarisasi. Hal ini membuat para mahasiswa menjadi kelimpungan. Pasalnya, jenis-jenis kata untuk karya tulis skripsi hampir semuanya membutuhkan padanan kata yang sama dan saling berkaitan. Sedangkan di sisi lain, DIKTI menggunakan angka persentase untuk standar penentuan karya plagiat sebesar 30% (tentunya dengan bantuan layanan program detektor plagiarisasi yang sudah banyak ditemukan dalam bentuk web, software, maupun aplikasi). Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya plagiasi paling berat (yang signifikansi kesamaan katanya hampir 70%), jika sudah melebihi standar maka sanksilah yang akan berbicara.


Apa itu Plagiarisme?

Sebelum membahas lebih jauh mengenai plagiasi, tentunya harus kita telisik lagi lebih dalam apa itu plagiasi? Plagiarisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti penjiplakan yang melanggar hak cipta. Artinya, mengambil gagasan orang lain secara utuh dan mengambil alih dengan mengatasnamakan diri sendiri. Jelas hal yang demikian menjadi kriminal di mata hukum. Oleh karena itu, perlu adanya pengetahuan lebih lanjut mengenai ‘batasan-batasan’ dari plagiasi.


Batasan Plagiasi

Dr. Anas Ahmadi, M.Pd., dalam bukunya Seni Menulis Nonfiksi dan Fiksi, menuturkan selain jenis plagiasi, ada juga jenis yang bukan plagiasi (2019:159). Jenis bukan plagiasi diantaranya, seperti; (1)  pengutipan, (2) perumusan konsep, (3) penguatan argumen, (4) pengetahuan teori, hingga (5) kebutuhan tentang data. Kelima hal tersebut tidak dikategorikan sebagai plagiasi karena merupakan informasi umum yang banyak digunakan penulis (sehingga tidak perlu dimasukkan sistem ketika pemeriksaan kadar plagiasi). Jadi, yang masuk dalam kategori plagiasi adalah dimana kita mencuri karya orang lain, untuk disadur demi kepentingan diri kita sendiri. Sedangkan dalam karya tulis ilmiah, semua informasi umum yang terkait dengan kebutuhan penulisan tidak dikategorikan sebagai plagiasi.


Perlunya Menulis Kreatif

Plagiarisme memang menjadi momok yang menakutkan di ranah akademik. Cara terbaik untuk terhindar adalah dengan tetap berhati-hati dalam mengolah informasi. Berikut ini tips menghindari plagiarisme dari Gamatechno yang saya ambil dari tessy.id.

  1. Sertakan sitasi.

Ketika seseorang menggunakan gagasan, informasi, pun opini yang bukan buah pikir sendiri, sitasi adalah sebuah keharusan. Hal tersebut juga berlaku meskipun penulis tidak menggunakan kata-kata yang sama persis. Penyertaan sitasi di sini artinya penulis harus memberikan keterangan dari mana informasi yang dituliskan didapat. Penulisan sitasi juga penting untuk dilakukan ketika penulis merasa ragu dengan keakuratan informasi yang disajikan. Sitasi dapat berupa body note maupun foot note.

  1. Catat berbagai sumber daftar pustaka sejak awal.

Dengan mendata apa saja sumber yang dipakai sejak awal, kesalahan bisa diminimalisir, pun akan sangat membantu dalam penyusunan daftar pustaka.

  1. Lakukan parafrase.

Tulisan yang hanya menggunakan kutipan langsung lebih berpotensi dianggap melakukan plagiarisme. Cara menyikapinya adalah dengan melakukan parafrase–menggunakan susunan kalimat sendiri–dari sumber asli dengan tetap mencantumkan sitasi.

  1. Lakukan interpretasi.

Untuk memperkuat gagasan yang disampaikan, terkadang ada pendapat yang harus dijadikan bahan pembanding atau dipinjam. Dalam hal ini, bisa jadi analisisnya terlalu rumit maupun butuh interpretasi tambahan. Interpretasi dilakukan seperlunya.

  1. Gunakan aplikasi antiplagiarisme.

Terakhir, apabila penulis masih merasa khawatir dengan hasil akhir karya tulisnya, aplikasi antiplagiarisme dapat dicoba. Aplikasi akan menunjukkan berapa persen tingkat kemiripan yang ditemukan.


Pesan Penulis

Sebagai mahasiswa, dengan adanya hukum yang sudah mengatur tentang plagiasi, hendaknya turut bergembira, karena keabsahan tulisan kalian telah diapresiasi dan dijaga keorisinilannya. Teruslah berkarya, ciptakan karya-karya tulis orisinil yang lahir dari gagasan-gagasan kritis kalian. Mahasiswa hendaknya turut mengasah pemikiran agar ide-ide baru dan fresh bermunculan mengingat ‘stempel’ mahasiswa adalah sebagai ‘agent of change’ ada baiknya ubah dunia dengan pemikiran-pemikiran dengan menulis. Dengan adanya sanksi bagi plagiator, pemerintah turut mendukung kegiatan menulis sebagai kegiatan orisinil yang melahirkan karya baru dan gagasan-gagasan baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

💔 Gagal Paham Ibadah Gara-Gara Kakek-Kakek di Surau? Belajar Realita dari Cerpen Jadul! 🤯

Cerita pendek atau cerpen itu lebih dari sekadar tumpukan kata fiksi. Itu adalah cermin mini dari kehidupan kita, lengkap dengan segala drama, konflik, dan pertanyaan eksistensial. Kalau kamu anak muda yang suka scroll TikTok sambil mempertanyakan makna hidup, atau mungkin lagi bingung membedakan antara tujuan dan tuntutan hidup, coba deh tengok cerpen klasik Indonesia, "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis . Dengerin baik-baik: cerpen jadul ini ternyata punya pelajaran super relatable buat kita soal realitas sosial —kenapa kita berpikir seperti sekarang, kenapa lingkungan membentuk kita, dan kenapa kadang idealisme kita bertabrakan sama kenyataan. Intinya, kita akan bongkar cerpen ini pakai kacamata Teori Konstruksi Realitas Sosial dari Berger dan Luckmann. 🧐 Momen 'Eksternalisasi': Si Kakek Penjaga Surau dan Vibes Ikhlas yang Ngenes Pernah merasa identitasmu terbentuk karena cara orang lain melihatmu? Nah, ini yang namanya Eksternalisasi . Ini adalah proses d...

Wajah Tunggal yang Mengatur Dunia

Ada banyak orang yang merasa dirinya terlalu jujur untuk bisa bermuka dua. Mereka berkata dengan lantang, “Aku gak bisa pura-pura,” seolah ketidakmampuannya menyembunyikan perasaan adalah bentuk keutamaan moral. Mereka merasa menjadi sosok yang paling tulus, paling apa adanya, paling berani menunjukkan luka. Padahal, tanpa mereka sadari, kejujuran yang mereka banggakan itu sering kali berubah menjadi bentuk halus dari kendali terhadap orang lain. Mereka terbiasa menganggap ekspresi emosi sebagai bukti keaslian diri. Jika marah, harus terlihat marah. Jika kecewa, harus langsung dikatakan. Jika tersakiti, harus segera diungkapkan. Di kepalanya, menahan diri berarti berbohong; diam berarti palsu. Padahal, di dunia yang sesungguhnya, tidak semua emosi pantas diumbar, dan tidak semua kejujuran perlu dibuka tanpa kendali. Ada bentuk kejujuran yang justru tumbuh dari kemampuan menahan diri, dari kesadaran bahwa kebenaran tidak selalu harus diucapkan dengan nada tinggi. Orang yang merasa tidak...

🎭 Panggung Kelas dan Topeng Kekalahan: Sebuah Monolog Elara

Di kursi guru, Elara merasa seperti seorang aktor yang salah kostum. Kepalanya bukan lagi berisi rencana pelajaran, melainkan kabut tebal sisa "audit kinerja" dari para Menteri Senioritas di ruangan sebelah. Mereka datang dengan niat mulia, membawa obor kearifan yang cahayanya terlalu terang sampai membakar telinga. Inti dari dekrit mereka? "Kapten Kapal tidak boleh terlihat menunduk di hadapan Anak Buah." "Nona Elara, kamu adalah arsitek di ladang ini. Jangan biarkan tunas-tunas muda itu menawar fondasi bangunanmu. Kelembutanmu itu bukan empati, tapi tiket gratis bagi kenakalan," begitulah kira-kira terjemahan halus dari titah mereka. Tentu, dia mengangguk. Dia tahu, sebagian dari sifatnya—yang mereka sebut "Jubah Kesabaran"—memang bolong di sana-sini. Ketika dia menyajikan kebaikan sebagai hidangan penutup, siswa malah menganggapnya prasmanan gratis untuk melunjak. Ketika dia mencoba memetik pemahaman dari pohon kenakalan mereka, mereka malah m...