Langsung ke konten utama

RESUME ARTIKEL PENELITIAN STILISTIKA GENETIK: KASUS GAYA BAHASA W.S. RENDRA DALAM BALLADA ORANG-ORANG TERCINTA DAN BLUES UNTUK BONNIE

RESUME ARTIKEL PENELITIAN STILISTIKA GENETIK: KASUS GAYA BAHASA W.S. RENDRA DALAM BALLADA ORANG-ORANG TERCINTA DAN BLUES UNTUK BONNIE

OLEH : RACHMAT DJOKO PRADOPO

Dalam artikel ini dijelaskan bahwa stilistika merupakan sebuah teori yang mengacu pada kebahasaan maupun simbolik. Beberapa poin yang disampaikan oleh Rachmat Djoko Pradopo dapat dirangkum seperti berikut.

  1. Stilistika

Beberapa tokoh mengutarakan pendapatnya terkait definisi Stilistika, Rachmat mengambil 3 definisi dari para ahli untuk kemudian disimpulkan.

Kridalaksana (1983) = Ilmu yang menyelidiki bahasa yang digunakan dalam karya sastra; Ilmu interdisipliner linguistik pada penelitian gaya bahasa.

Slametmuljana (1956) = Pengetahuan tentang kata berjiwa, yakni kata yang digunakan dalam cipta sastra yang mengandung perasaan pengarang.

KBBI (1988) = Studi gaya bahasa dalam bahasa pada umumnya khususnya pada bahasa kesusastraan.

Jadi, Stilistika adalah ilmu tentang gaya bahasa.


  1. Gaya Bahasa

Selain definisi Stilistika, untuk bisa memahami bagaimana “Stilistika Genetik”, Rachmat mengambil beberapa pendapat ahli mengenai gaya bahasa. Seperti pada poin berikut.

Slametmuljana (Tt) = Susunan kata yang terjadi karena perasaan pengarang baik yang disengaja maupun tidak menimbulkan perasaan tertentu di hati pembaca.

Keraf (1984) = Cara mengungkapkan  pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa penulis.

Hartoko & Rahmanto (1986) = Cara yang khas dipakai seseorang untuk mengungkapkan dirinya.

Abrams (1981) = Cara penulis mengatakan apa saja yang ingin dikatakan.

Kridalaksana = Pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur untuk memperoleh efek tertentu.

Jadi, Gaya Bahasa merupakan cara bertutur tertentu untuk mendapatkan efek estetik atau kepuitisan.

Stilistika, dalam hubungannya meneliti tentang gaya bahasa, oleh Hartoko & Rahmanto (1980) dibagi menjadi sub disiplin ilmu yakni “Stilistika Deskriptif” dan “Stilistika Genetik” dimana stilistika deskriptif mendekati gaya bahasa sebagai keseluruhan gaya ekspresi kejiwaan yang terkandung dalam suatu bahasa sedangkan stilistika genetik memandang gaya bahasa sebagai suatu ungkapan yang khas pribadi. 

  1. Jenis-Jenis Gaya Bahasa

Jenis gaya bahasa pada artikel ini meliputi intonasi, bunyi, kata, dan kalimat. Gaya intonasi dalam bahasa tulisan sukar diteliti, hingga dalam artikel ini hanya dijelaskan tiga gaya saja. Gaya bunyi meliputi kiasan bunyi, sajak, onomatope, orkestrasi, dan irama. Sedangkan gaya kata meliputi bentuk kata, arti kata, diksi, dan etimologi. Terakhir gaya kalimat yaitu merujuk pada bentuk kalimat dan sarana retorika.


  1. Gaya Bahasa Rendra dalam Ballada Orang-Orang Tercinta dan Blues untuk Bonnie

Rachmat Djoko Pradopo memilih dua kumpulan sajak karya WS Rendra dalam penelitiannya mengenai Stilistika Genetik. Dua kumpulan sajak tersebut diantaranya yaitu Ballada Orang-Orang Tercinta dan Blues untuk Bonnie. Hasil penelitiannya adalah sebagai berikut:

  • Gaya Bunyi

Pada data berjudul ‘Ballada Lelaki Tanah Kapur’ dan ‘Ballada Penyaliban’, Rendra memakai orkestrasi efoni, yaitu kombinasi bunyi yang merdu. Ia mempergunakan orkestrasi efoni untuk menimbulkan pencurahan perasaan.

  • Gaya Kata

Dalam gaya bahasa ini yang paling menonjol dalam kedua kumpulan Rendra adalah gaya citraan dan bahasa kiasan. Bahasa kiasan yang paling dominan adalah simile dan metafora. 

  • Gaya Kalimat

Gaya kalimat dan wacana dalam sajak sajak Rendra pada umumnya adalah sarana retorika. Yang dominan adalah pengulangan dan paralelisme. Lebih-lebih balada-balada yang mengandung ulangan refrain.


  1. Kesimpulan

Dari beberapa ringkasan poin-poin diatas, dapat dikatakan bahwa corak gaya bahasa Rendra adalah apa yang tersirat dari jenis gaya bahasa yang digunakannya. Tetapi ada juga sarana retorika yang tidak tampak yang kemudian dikembangkan dalam kumpulan sajak yang lain.


Sumber :

Pradopo, Rachmat Djoko. 1999. Penelitian Stilistika Genetik: Kasus Gaya Bahasa W.S. Rendra dalam Ballada Orang-orang Tercinta dan Blues untuk Bonnie. jurnal.ugm.ac.id Diakses pada 18 Februari 2021.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

🎭 Panggung Kelas dan Topeng Kekalahan: Sebuah Monolog Elara

Di kursi guru, Elara merasa seperti seorang aktor yang salah kostum. Kepalanya bukan lagi berisi rencana pelajaran, melainkan kabut tebal sisa "audit kinerja" dari para Menteri Senioritas di ruangan sebelah. Mereka datang dengan niat mulia, membawa obor kearifan yang cahayanya terlalu terang sampai membakar telinga. Inti dari dekrit mereka? "Kapten Kapal tidak boleh terlihat menunduk di hadapan Anak Buah." "Nona Elara, kamu adalah arsitek di ladang ini. Jangan biarkan tunas-tunas muda itu menawar fondasi bangunanmu. Kelembutanmu itu bukan empati, tapi tiket gratis bagi kenakalan," begitulah kira-kira terjemahan halus dari titah mereka. Tentu, dia mengangguk. Dia tahu, sebagian dari sifatnya—yang mereka sebut "Jubah Kesabaran"—memang bolong di sana-sini. Ketika dia menyajikan kebaikan sebagai hidangan penutup, siswa malah menganggapnya prasmanan gratis untuk melunjak. Ketika dia mencoba memetik pemahaman dari pohon kenakalan mereka, mereka malah m...

Antara Janggut Sejarah dan Jejak Puisi yang Hilang

Di sudut ruang diskusi yang berdebu—tempat waktu seolah enggan beranjak dari lembaran usang sejarah—bersemayamlah dua sosok yang bertukar pandang tentang sebuah misteri abadi: Ontologi Puisi. Sosok itu, yang akan kita sebut Puan Senja, seorang pemerhati aksara dengan sorot mata secerah neon di malam metropolitan, duduk berhadapan dengan Tuan Guru Sejarah, Bapak Purwa. Bapak Purwa, dengan janggut tipis dan kacamata yang selalu melorot, adalah seorang pengawal setia kronik masa lalu. Puan Senja, sang penjelajah makna di balik tirai kata, tengah menyajikan argumennya tentang eksistensi "nyawa" puisi. Ia menguraikan, dengan ritme yang meliuk, bahwa puisi bukanlah sekadar barisan huruf yang berpelukan, melainkan sebuah Monolog Semesta yang direkam oleh kalbu penyair. "Puisi," ujar Puan Senja, suaranya seperti seruling yang ditiup angin gurun, "adalah sisa-sisa percakapan yang tak pernah terjadi dengan Tuhan, atau mungkin, desahan sunyi di hadapan cermin yang tak mem...

ANALISIS CERPEN BAWUK (KAJIAN TEORI MIMESIS)

ANALISIS CERPEN BAWUK  (KAJIAN TEORI MIMESIS) Cerpen “Bawuk” ditulis oleh Umar Kayam dengan latar yang nyata. Suasana yang ada dalam cerpen tersebut menggambarkan masa dimana bangsa Indonesia mengalami gejolak pemberontakan oleh PKI. Hal tersebut dapat dilihat dari paragraf dalam cerpen yang mengisahkan tokoh Bawuk menikah dengan seorang pimpinan komunis, yakni Hassan. “… Hassan, suami Bawuk, selalu dianggap terlalu keras dan tinggi hati oleh iparnya. Keterusterangan serta ketajaman pikirannya selalu menimbulkan perasaan yang kurang enak kepada saudara-saudaranya itu. Dan aktivitasnya sebagai seorang komunis, pengaruhnya yang sangat dalam pada pemikiran Bawuk, serta kemudian cara mereka bersama-sama menghilang pada akhir Oktober, itu semua menambah perasaan kurang senang di antara keluarga itu …” (Kayam, 1975) Melihat kekuatan Umar Kayam dalam realisme -nya menulis cerita tersebut, hal ini membuat karya sastra tersebut dapat dikaji dengan pendekatan mimesis. Teori mimesis itu sendi...