ANALISIS STRUKTUR FISIK DAN BATIN PUISI
KARYA AFRI MELDAM
(Puisi Kompas, Sabtu, 22 Juni 2019)
ANALISIS STRUKTUR FISIK PUISI
DIKSI
Merupakan pemilihan dan penyusunan kata-kata dalam tuturan atau tulisan untuk mendapatkan kepadatan dan intensitas serta agar selaras dengan sarana komunikasi puitis yang lain, seperti persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya.
Dalam puisi ini, Afri Meldam dominan memilih kata-kata kiasan sebagai bentuk perbandingan situasi dan kondisi perasaannya pada saat itu. Pemilihan kata tersebut membuat pembaca dapat merasakan dengan jelas suasana hati Afri dan membuat puisi lebih bernyawa.
PENGIMAJIAN/PENCITRAAN
Merupakan gambaran angan-angan dalam puisi untuk mendeskripsikan sesuatu sehingga pembaca dapat melihat, merasakan, dan mendengarnya.
Dalam puisi ini, Afri Meldam banyak memunculkan imaji suara (auditif) yang dominan seperti pada bait, “Telah merapat kapal dengan bising mesin” yang mengajak kita membayangkan suara bising mesin kapal yang begitu riuhnya seriuh isi pikiran penulis yang saat itu mengingat nasehat seseorang, dan lain sebagainya.
KATA KONKRET
Ialah kata yang dapat melukiskan dengan tepat, membayangkan dengan jitu akan apa yang hendak dikemukakan oleh penyair dan membuat pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasa apa yang dilukiskan olehnya.
Dalam puisi ini, Afri Meldam memunculkan kata konkret sebagai arti dari diksi konotatif yang dipilihnya untuk membandingkan keadaan sebenarnya yang ia alami dengan pengandaian yang menarik untuk dipahami. Seperti pada bait, “Hiduplah sebagaimana orang hidup” yang diperjelas dengan kata konkret “Duduk di kafe, pesan teh Amerika”.
BAHASA FIGURATIF
Ialah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa; dengan cara yang tidak langsung untuk mengungkapkan makna sehingga menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan angan atau imaji.
Dalam puisi ini, Afri Meldam menggunakan gaya bahasa personifikasi yang terwujud pada bait, “Bersiul lagu matahari terbenam”.
RIMA DAN RITMA
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi sehingga puisi menjadi merdu bila dibaca. Sedangkan ritma berarti gerakan yang teratur dari kata-kata atau frasa-frasa dalam bait-bait puisi atau prosa yang meliputi rima dan aktivitas pengucapan (totalitas tinggi rendah suara, panjang pendek suara) ketika membaca atau mendeklamasikan puisi.
Dalam puisi ini, rima yang digunakan tidak konsisten hanya sebatas pemenggalan ritmanya saja. Sedang ritma yang digunakan menunjukkan keteguhan hati seorang penyair kala ajal menjemput.
TIPOGRAFI
Merupakan bentuk fisik atau penyusunan baris-baris dalam puisi untuk menampilkan aspek artistik visual dan untuk menciptakan nuansa makna tertentu.
Puisi Hari Penjemputan ini, memiliki tipografi yang tidak konsisten. Dari bait pertama hingga akhir, tidak ada kesamaan baris atau kata yang menunjukkan baris yang runtut. Puisi ini ditulis berdasarkan nada dari emosi si penyair.
ANALISIS STRUKTUR BATIN PUISI
TEMA (SENSE)
Merupakan gagasan atau ide pokok atau sering pula disebut pokok persoalan yang begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya.
Dalam puisi ini, Afri Meldam mengangkat tema kematian. Yaitu tentang isi pikiran seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut dimana ketika itu ia berada di pelabuhan dan tiba-tiba teringat akan kenangan hidupnya dahulu yang penuh suka-duka. Seperti pada bait dibawah,
Telah merapat kapal
dengan bising mesin
Telah kurapal
yang kau ajarkan kemarin:
Hiduplah sebagaimana orang hidup
Duduk di kafe, pesan teh Amerika
Bersiul lagu matahari terbenam
Tidur siang dan bangun menjelang subuh
Pergi ke masjid sebagaimana biasa
Melihat air sawah dan tunas pertama
dari kelopak bawang
yang dilanjut dengan bait,
Telah tiba jemputan
Dengan suara keras memanggil
Telah duduk opsir di kursi malas
Di serambi kau tinggal mendengar
Siul terakhir
sebelum
salvo
dan nafas jadi getir
PERASAAN (FEELING)
Ialah sikap penyair terhadap subject matter atau pokok persoalan yang terdapat dalam puisinya. Misalnya sikap simpati, antipati, senang, tidak senang, rasa benci, rindu, dan sebagainya.
Dalam puisi ini, Afri Meldam merasakan kesedihan yang mendalam akan tibanya “hari penjemputan” nya itu. Ia merasa masih ingin hidup sebagaimana orang hidup, mengingat semasa hidupnya hanya ia gunakan untuk berjuang mengabdi negara, tetapi tidak untuk orang-orang terdekatnya.
NADA (TONE)
Adalah refleksi sikap penyair (terhadap pembaca), cara, suasana hati, dan pandangan moral, bahkan, mungkin hal kepribadiannya pun merembes dan tercermin dalam karyanya bergantung kepada kondisi penyair pada saat itu dan keadaan masyarakat sekitarnya.
Dalam puisi ini, Afri Meldam menuangkan perasaan harap yang tinggi. Berharap agar ia dapat hidup dan dapat mengulang kembali waktu untuk dapat sekedar menikmati hidup sebagaimana orang hidup yang ia inginkan.
AMANAT (INTENTION)
Tujuan yang hendak dikemukakan oleh penyair banyak bergantung kepada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair.
Pesan yang ingin disampaikan oleh Afri Meldam secara khusus ditujukan pada para pekerja pengabdi uang yang melupakan waktu yang seharusnya dibagi untuk dia dan juga keluarganya atau orang-orang terdekatnya. Janganlah terlampau senang mengejar harta, karena waktu untuk membahagiakan diri sendiri dan keluarga jauh lebih berharga diatas segalanya.
Komentar
Posting Komentar