Langsung ke konten utama

ANALISIS STRUKTUR FISIK DAN BATIN PUISI KARYA AFRI MELDAM

ANALISIS STRUKTUR FISIK DAN BATIN PUISI

KARYA AFRI MELDAM

(Puisi Kompas, Sabtu, 22 Juni 2019)

Hari Penjemputan

Telah merapat kapal

dengan bising mesin

Telah kurapal

yang kau ajarkan kemarin:

Hiduplah sebagaimana orang hidup

Duduk di kafe, pesan teh Amerika

Bersiul lagu matahari terbenam

Tidur siang dan bangun menjelang subuh

Pergi ke masjid sebagaimana biasa

Melihat air sawah dan tunas pertama

dari kelopak bawang

Telah tiba jemputan

Dengan suara keras memanggil

Telah duduk opsir di kursi malas

Di serambi kau tinggal mendengar

Siul terakhir

sebelum

salvo

dan nafas jadi getir

Mengiau juga kucing

di bilik, di bawah dipan

Pulang sendiri kuda

dari medan perang

Membawa tuannya

dengan lubang meriam

Menganga di dada

Mungkin perlu

Meratap juga kami

Sekadarnya

Bukti berduka

Tanda tak ada

Setelah ini

Yang mesti ditangisi

-lagi

Para pengkhotbah toh juga tak sampai kesini

Tuhan telah lama terpaku di tiang palang itu


ANALISIS STRUKTUR FISIK PUISI

  • DIKSI

Merupakan pemilihan dan penyusunan kata-kata dalam tuturan atau tulisan untuk mendapatkan kepadatan dan intensitas serta agar selaras dengan sarana komunikasi puitis yang lain, seperti persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya.

Dalam puisi ini, Afri Meldam dominan memilih kata-kata kiasan sebagai bentuk perbandingan situasi dan kondisi perasaannya pada saat itu. Pemilihan kata tersebut membuat pembaca dapat merasakan dengan jelas suasana hati Afri dan membuat puisi lebih bernyawa.

  • PENGIMAJIAN/PENCITRAAN

Merupakan gambaran angan-angan dalam puisi untuk mendeskripsikan sesuatu sehingga pembaca dapat melihat, merasakan, dan mendengarnya.

Dalam puisi ini, Afri Meldam banyak memunculkan imaji suara (auditif) yang dominan seperti pada bait, “Telah merapat kapal dengan bising mesin” yang mengajak kita membayangkan suara bising mesin kapal yang begitu riuhnya seriuh isi pikiran penulis yang saat itu mengingat nasehat seseorang, dan lain sebagainya.

  • KATA KONKRET

Ialah kata yang dapat melukiskan dengan tepat, membayangkan dengan jitu akan apa yang hendak dikemukakan oleh penyair dan membuat pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasa apa yang dilukiskan olehnya.

Dalam puisi ini, Afri Meldam memunculkan kata konkret sebagai arti dari diksi konotatif yang dipilihnya untuk membandingkan keadaan sebenarnya yang ia alami dengan pengandaian yang menarik untuk dipahami. Seperti pada bait, “Hiduplah sebagaimana orang hidup” yang diperjelas dengan kata konkret “Duduk di kafe, pesan teh Amerika”.


  • BAHASA FIGURATIF

Ialah bahasa yang digunakan oleh penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa; dengan cara yang tidak langsung untuk mengungkapkan makna sehingga menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan angan atau imaji.

Dalam puisi ini, Afri Meldam menggunakan gaya bahasa personifikasi yang terwujud pada bait, “Bersiul lagu matahari terbenam”.

  • RIMA DAN RITMA

Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi sehingga puisi menjadi merdu bila dibaca. Sedangkan ritma berarti gerakan yang teratur dari kata-kata atau frasa-frasa dalam bait-bait puisi atau prosa yang meliputi rima dan aktivitas pengucapan (totalitas tinggi rendah suara, panjang pendek suara) ketika membaca atau mendeklamasikan puisi.

Dalam puisi ini, rima yang digunakan tidak konsisten hanya sebatas pemenggalan ritmanya saja. Sedang ritma yang digunakan menunjukkan keteguhan hati seorang penyair kala ajal menjemput.

  • TIPOGRAFI

Merupakan bentuk fisik atau penyusunan baris-baris dalam puisi untuk menampilkan aspek artistik visual dan untuk menciptakan nuansa makna tertentu.

Puisi Hari Penjemputan ini, memiliki tipografi yang tidak konsisten. Dari bait pertama hingga akhir, tidak ada kesamaan baris atau kata yang menunjukkan baris yang runtut. Puisi ini ditulis berdasarkan nada dari emosi si penyair.

ANALISIS STRUKTUR BATIN PUISI

  • TEMA (SENSE)

Merupakan gagasan atau ide pokok atau sering pula disebut pokok persoalan yang begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya.

Dalam puisi ini, Afri Meldam mengangkat tema kematian. Yaitu tentang isi pikiran seseorang yang  sedang mengalami sakaratul maut dimana ketika itu ia berada di pelabuhan dan tiba-tiba teringat akan kenangan hidupnya dahulu yang penuh suka-duka. Seperti pada bait dibawah,

Telah merapat kapal

dengan bising mesin

Telah kurapal

yang kau ajarkan kemarin:

Hiduplah sebagaimana orang hidup

Duduk di kafe, pesan teh Amerika

Bersiul lagu matahari terbenam

Tidur siang dan bangun menjelang subuh

Pergi ke masjid sebagaimana biasa

Melihat air sawah dan tunas pertama

dari kelopak bawang


yang dilanjut dengan bait,

Telah tiba jemputan

Dengan suara keras memanggil

Telah duduk opsir di kursi malas

Di serambi kau tinggal mendengar

Siul terakhir

sebelum

salvo

dan nafas jadi getir


  • PERASAAN (FEELING)

Ialah sikap penyair terhadap subject matter atau pokok persoalan yang terdapat dalam puisinya. Misalnya sikap simpati, antipati, senang, tidak senang, rasa benci, rindu, dan sebagainya.

Dalam puisi ini, Afri Meldam merasakan kesedihan yang mendalam akan tibanya “hari penjemputan” nya itu. Ia merasa masih ingin hidup sebagaimana orang hidup, mengingat semasa hidupnya hanya ia gunakan untuk berjuang mengabdi negara, tetapi tidak untuk orang-orang terdekatnya.

  • NADA (TONE)

Adalah refleksi sikap penyair (terhadap pembaca), cara, suasana hati, dan pandangan moral, bahkan, mungkin hal kepribadiannya pun merembes dan tercermin dalam karyanya bergantung kepada kondisi penyair pada saat itu dan keadaan masyarakat sekitarnya.

Dalam puisi ini, Afri Meldam menuangkan perasaan harap yang tinggi. Berharap agar ia dapat hidup dan dapat mengulang kembali waktu untuk dapat sekedar menikmati hidup sebagaimana orang hidup yang ia inginkan.

  • AMANAT (INTENTION)

Tujuan yang hendak dikemukakan oleh penyair banyak bergantung kepada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair.

Pesan yang ingin disampaikan oleh Afri Meldam secara khusus ditujukan pada para pekerja pengabdi uang yang melupakan waktu yang seharusnya dibagi untuk dia dan juga keluarganya atau orang-orang terdekatnya. Janganlah terlampau senang mengejar harta, karena waktu untuk membahagiakan diri sendiri dan keluarga jauh lebih berharga diatas segalanya.


Sumber Rujukan :
Pradopo, Rachmat Djoko. 1993. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjahmada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

🎭 Panggung Kelas dan Topeng Kekalahan: Sebuah Monolog Elara

Di kursi guru, Elara merasa seperti seorang aktor yang salah kostum. Kepalanya bukan lagi berisi rencana pelajaran, melainkan kabut tebal sisa "audit kinerja" dari para Menteri Senioritas di ruangan sebelah. Mereka datang dengan niat mulia, membawa obor kearifan yang cahayanya terlalu terang sampai membakar telinga. Inti dari dekrit mereka? "Kapten Kapal tidak boleh terlihat menunduk di hadapan Anak Buah." "Nona Elara, kamu adalah arsitek di ladang ini. Jangan biarkan tunas-tunas muda itu menawar fondasi bangunanmu. Kelembutanmu itu bukan empati, tapi tiket gratis bagi kenakalan," begitulah kira-kira terjemahan halus dari titah mereka. Tentu, dia mengangguk. Dia tahu, sebagian dari sifatnya—yang mereka sebut "Jubah Kesabaran"—memang bolong di sana-sini. Ketika dia menyajikan kebaikan sebagai hidangan penutup, siswa malah menganggapnya prasmanan gratis untuk melunjak. Ketika dia mencoba memetik pemahaman dari pohon kenakalan mereka, mereka malah m...

Antara Janggut Sejarah dan Jejak Puisi yang Hilang

Di sudut ruang diskusi yang berdebu—tempat waktu seolah enggan beranjak dari lembaran usang sejarah—bersemayamlah dua sosok yang bertukar pandang tentang sebuah misteri abadi: Ontologi Puisi. Sosok itu, yang akan kita sebut Puan Senja, seorang pemerhati aksara dengan sorot mata secerah neon di malam metropolitan, duduk berhadapan dengan Tuan Guru Sejarah, Bapak Purwa. Bapak Purwa, dengan janggut tipis dan kacamata yang selalu melorot, adalah seorang pengawal setia kronik masa lalu. Puan Senja, sang penjelajah makna di balik tirai kata, tengah menyajikan argumennya tentang eksistensi "nyawa" puisi. Ia menguraikan, dengan ritme yang meliuk, bahwa puisi bukanlah sekadar barisan huruf yang berpelukan, melainkan sebuah Monolog Semesta yang direkam oleh kalbu penyair. "Puisi," ujar Puan Senja, suaranya seperti seruling yang ditiup angin gurun, "adalah sisa-sisa percakapan yang tak pernah terjadi dengan Tuhan, atau mungkin, desahan sunyi di hadapan cermin yang tak mem...

ANALISIS CERPEN BAWUK (KAJIAN TEORI MIMESIS)

ANALISIS CERPEN BAWUK  (KAJIAN TEORI MIMESIS) Cerpen “Bawuk” ditulis oleh Umar Kayam dengan latar yang nyata. Suasana yang ada dalam cerpen tersebut menggambarkan masa dimana bangsa Indonesia mengalami gejolak pemberontakan oleh PKI. Hal tersebut dapat dilihat dari paragraf dalam cerpen yang mengisahkan tokoh Bawuk menikah dengan seorang pimpinan komunis, yakni Hassan. “… Hassan, suami Bawuk, selalu dianggap terlalu keras dan tinggi hati oleh iparnya. Keterusterangan serta ketajaman pikirannya selalu menimbulkan perasaan yang kurang enak kepada saudara-saudaranya itu. Dan aktivitasnya sebagai seorang komunis, pengaruhnya yang sangat dalam pada pemikiran Bawuk, serta kemudian cara mereka bersama-sama menghilang pada akhir Oktober, itu semua menambah perasaan kurang senang di antara keluarga itu …” (Kayam, 1975) Melihat kekuatan Umar Kayam dalam realisme -nya menulis cerita tersebut, hal ini membuat karya sastra tersebut dapat dikaji dengan pendekatan mimesis. Teori mimesis itu sendi...