Langsung ke konten utama

ESSAI COVID 19 DAN RELEVANSINYA DENGAN SASTRA

Wabah Covid 19

Covid 19 menjadi momok saat ini, per bulan maret 2020, semua kegiatan kampus bagi mahasiswa menjadi serba online. Tugas menjadi semakin bertumpuk dan tidak ada habisnya. Utamanya disaat ini, tugas kuliah melibatkan aplikasi aplikasi online yang tersedia di android. Seperti Zoom, Meet, Google Classromm, dan lain-lain. Hal ini juga mempengaruhi penugasan mata kuliah. Sejak adanya covid, sistem penugasan diberikan dengan konsep artikelisasi. Semua tugas berbentuk makalah dan artikel, hal ini membuat para mahasiswa kekurangan bahan untuk meneliti. Buku-buku di perpustakaan menjadi langka  untuk dijangkau dan internet menjadi salah satu alternatif bahan penelitian. Itu pun sangat terbatas. Belum lagi ketentuan dari artikel dan makalah yang menhindari plagiasi lebih dari 25%. Mahasiswa perlu memeras otak agar terhindar dari plagiasi dan harus tetap solutif. Akibatnya dalam menyusun essai kali ini, akan dibahas bagaimana sebuah inspirasi menulis didapat. Penulis mengangkat essai yang menunjukkan  bahwa “sastra tidak akan punah meski wabah melanda”.


Bahan Essai

Dilansir dari Republika.co.id, jelas bahwa para seniman tidak lantas berpangku tangan di tengah wabah Covid-19. Mereka terus berkreasi. Salah satu di antaranya adalah pentas sastra bertajuk #puisidirumahsaja. Kegiatan yang digelar setiap  akhir pekan --  Sabtu atau Ahad malam – itu mengetengahkan pembacaan puisi oleh sejumlah sastrawan dan pegiat sastra dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka datang dari pulau Jawa, Sumatera, Aceh, hingga Pulau Bali. Sebagian dari mereka adalah nama-nama yang cukup akrab dengan publik sastra Indonesia, seperti LK Ara, Din Saja, Zaim Roqi, Mahwi Air Tawar, Iwan Kurniawan, Sudiyanto, Aaha Rizal,  Tora Kundera,  dan lain-lain. 

Kegiatan ini digagas oleh penyair asal Aceh, Mustafa Ismail, dan penyair Bengkulu,  Willy Ana. Kegiatan itu diorganisir oleh Imaji Indonesia dan Infosastra. Teknisnya, menurut penulis buku puisi Tuhan, Kunang-kunang dan 45 Kesunyian  itu, semua penonton dan pembaca mengikuti informasi lalu lintas pembacaan di akun Instagram @infosastra. 

Tema yang diketengahkan tiap pekan berbeda-beda. Ini dilakukan, menurut Willy Ana, untuk merespons situasi terkini dan momentum tertentu.  Kali ini, misalnya, yang diadakan pada Minggu,  12 April 2020 malam,   temanya “Penggung Puisi Komedi”. Menurut Willy Ana, tema itu dipilih untuk memberi jeda dan kesegaran terhadap situasi yang makin menguarkan kecemasan dan tekanan akibat virus Corona yang paparannya makin meluas.

Salah satu penyair yang ikut membaca puisi, Mahwi Air Tawar, mengatakan berbagai pentas dari rumah adalah bagian dari upaya seniman untuk terus berkarya. Namun, ia mengusulkan, agar kegiatan-kegiatan daring itu lebih dimaksimalkan, misalnya digabungkan dengan program donasi untuk membantu orang-orang yang terdampak Covid-19 atau Corona, mulai dari tukang ojek hingga seniman yang banyak di antara mereka acaranya batal karena pandemi ini. Salah seorang penggagas Malam Sastra Margonda, Tora Kundera, mendukung gagasan ini. Ia bersama teman-temannya merasakan langsung dampak pandemi Corona terhadap kegiatan itu. Kendati begitu, mereka tetap semangat dalam berkarya.


Covid dan Sastra

Dari referensi diatas, dapat dilihat bahwa dunia sastra akan terus digemakan. Justru dengan adanya wabah ini, para sastrawan akan semakin penuh kreasi. Seperti halnya Gubug Sastra Hijau, sebuah komunitas yang dipelopori Naning Pranoto, dalam rangka memperingati Hari Bumi menggelar pentas dan pelatihan penulisan  sastra bertema lingkungan hidup atau  bergenre Sastra Hijau di daerah Bantul, Yogayakarta. Hal ini juga sebagai wujud turut berduka-citanya para sastrawan Gubug Sastra Hijau terhadap bumi yang sedang didera pandemi covid.

Ciri utama karya sastra (prosa atau puisi) bergenre Sastra Hijau, bukan hanya sebuah karya yang bersifat satire. Namun, yang lebih utama bahasa yang dipakai dalam karya itu harus banyak memakai diksi ekologi dan saat menulisnya dilandasi rasa cinta terhadap Bumi. Selain itu, tulisan harus menyingkap rasa kepedihan Bumi yang hancur dan kegelisahan dalam menyikapi penghancuran Bumi. Juga mengungkap ketidakadilan atas perlakuan sewenang-wenang terhadap Bumi dan isinya seperti pohon, tambang, air, udara, serta penghuninya yaitu manusia. Visi dan misi Sastra Hijau adalah penyadaran dan pencerahan yang diharapkan dapat mengubah gaya hidup dari perusak menjadi pemelihara Bumi.

Dari uraian diatas, jelas bahwa covid membawa para sastrawan untuk terus berkembang dan berkreativitas. Adanya wabah tidak membuat  para sastrawan gentar untuk terus menyampaikan isi hatinya melalui sebuah karya. Untuk itu, harusnya kita sebagai mahasiswa jurusan bahasa dan sastra indonesia hendaknya turut berpartisipasi walau hanya dengan kata-kata, bukan suatu hal tidak mungkin bahwa karya-karya tulis kita dapat menjadi doa bagi kesembuhan bumi kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

🎭 Panggung Kelas dan Topeng Kekalahan: Sebuah Monolog Elara

Di kursi guru, Elara merasa seperti seorang aktor yang salah kostum. Kepalanya bukan lagi berisi rencana pelajaran, melainkan kabut tebal sisa "audit kinerja" dari para Menteri Senioritas di ruangan sebelah. Mereka datang dengan niat mulia, membawa obor kearifan yang cahayanya terlalu terang sampai membakar telinga. Inti dari dekrit mereka? "Kapten Kapal tidak boleh terlihat menunduk di hadapan Anak Buah." "Nona Elara, kamu adalah arsitek di ladang ini. Jangan biarkan tunas-tunas muda itu menawar fondasi bangunanmu. Kelembutanmu itu bukan empati, tapi tiket gratis bagi kenakalan," begitulah kira-kira terjemahan halus dari titah mereka. Tentu, dia mengangguk. Dia tahu, sebagian dari sifatnya—yang mereka sebut "Jubah Kesabaran"—memang bolong di sana-sini. Ketika dia menyajikan kebaikan sebagai hidangan penutup, siswa malah menganggapnya prasmanan gratis untuk melunjak. Ketika dia mencoba memetik pemahaman dari pohon kenakalan mereka, mereka malah m...

Antara Janggut Sejarah dan Jejak Puisi yang Hilang

Di sudut ruang diskusi yang berdebu—tempat waktu seolah enggan beranjak dari lembaran usang sejarah—bersemayamlah dua sosok yang bertukar pandang tentang sebuah misteri abadi: Ontologi Puisi. Sosok itu, yang akan kita sebut Puan Senja, seorang pemerhati aksara dengan sorot mata secerah neon di malam metropolitan, duduk berhadapan dengan Tuan Guru Sejarah, Bapak Purwa. Bapak Purwa, dengan janggut tipis dan kacamata yang selalu melorot, adalah seorang pengawal setia kronik masa lalu. Puan Senja, sang penjelajah makna di balik tirai kata, tengah menyajikan argumennya tentang eksistensi "nyawa" puisi. Ia menguraikan, dengan ritme yang meliuk, bahwa puisi bukanlah sekadar barisan huruf yang berpelukan, melainkan sebuah Monolog Semesta yang direkam oleh kalbu penyair. "Puisi," ujar Puan Senja, suaranya seperti seruling yang ditiup angin gurun, "adalah sisa-sisa percakapan yang tak pernah terjadi dengan Tuhan, atau mungkin, desahan sunyi di hadapan cermin yang tak mem...

ANALISIS CERPEN BAWUK (KAJIAN TEORI MIMESIS)

ANALISIS CERPEN BAWUK  (KAJIAN TEORI MIMESIS) Cerpen “Bawuk” ditulis oleh Umar Kayam dengan latar yang nyata. Suasana yang ada dalam cerpen tersebut menggambarkan masa dimana bangsa Indonesia mengalami gejolak pemberontakan oleh PKI. Hal tersebut dapat dilihat dari paragraf dalam cerpen yang mengisahkan tokoh Bawuk menikah dengan seorang pimpinan komunis, yakni Hassan. “… Hassan, suami Bawuk, selalu dianggap terlalu keras dan tinggi hati oleh iparnya. Keterusterangan serta ketajaman pikirannya selalu menimbulkan perasaan yang kurang enak kepada saudara-saudaranya itu. Dan aktivitasnya sebagai seorang komunis, pengaruhnya yang sangat dalam pada pemikiran Bawuk, serta kemudian cara mereka bersama-sama menghilang pada akhir Oktober, itu semua menambah perasaan kurang senang di antara keluarga itu …” (Kayam, 1975) Melihat kekuatan Umar Kayam dalam realisme -nya menulis cerita tersebut, hal ini membuat karya sastra tersebut dapat dikaji dengan pendekatan mimesis. Teori mimesis itu sendi...