Langsung ke konten utama

PUISI KU ... PUISI SATU SAMPAI EMPAT

PUISI 1

Kenanglah Daun Itu

Daun itu kuning karena kering

Ia hampa melihat udara yang beriring

Mereka terlihat terpolusi dengan sering

Perasaan hati ku pun juga sama dengannya,

bergeming di ranting

Daun itu kering karena layu

Aku melihatnya dengan mata yang sama sayu

Dia terlihat sepertiku yang sedang mendayu

Mencoba berusaha menyingkap tabir yang begitu tabu

Daun itu beterbangan karena angin

Seolah mendengar arahnya yang memenuhi ingin

Menyindir sandarku pada beringin

Yang terlampau memuja hati yang dingin


PUISI 2

Bertahan

Kertas usang di dinding itu menempel tak bergeming

Seolah menyiratkan bahwa “aku sudah lelah berada disini!”

Tak bisakah yang lalu lalang itu menghampiriku barang sebentar?

Kertas itu tetap berpuisi…

Hilang dalam heningnya sendiri


PUISI 3



Kompleks Manusia


Berpuluh kali aku meragu

Beribu kali rasa hati tak tentu

Berjuta kali diri ini seperti batu

Nyatanya, satu tubuh ini memang telah beku dengan milyaran perilaku


Dalam satu masa, bisa saja manusia itu menggemingkan hakikatnya

Tapi kuasa genggaman Tuhan

tak bisa lumpuh hanya dengan rayuan


PUISI 4



Indahnya Pemandangan

Matematika kehidupan sangat indah dipandang.

Hak untuk dilihat dan terpampang nyata diberikan.

Biasalah! Semua dalam sekejap pandangan akan terasa benar oleh benak.

Tidak lagi peduli dengan nurani dan kata hati yang teramat suci.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

💔 Gagal Paham Ibadah Gara-Gara Kakek-Kakek di Surau? Belajar Realita dari Cerpen Jadul! 🤯

Cerita pendek atau cerpen itu lebih dari sekadar tumpukan kata fiksi. Itu adalah cermin mini dari kehidupan kita, lengkap dengan segala drama, konflik, dan pertanyaan eksistensial. Kalau kamu anak muda yang suka scroll TikTok sambil mempertanyakan makna hidup, atau mungkin lagi bingung membedakan antara tujuan dan tuntutan hidup, coba deh tengok cerpen klasik Indonesia, "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis . Dengerin baik-baik: cerpen jadul ini ternyata punya pelajaran super relatable buat kita soal realitas sosial —kenapa kita berpikir seperti sekarang, kenapa lingkungan membentuk kita, dan kenapa kadang idealisme kita bertabrakan sama kenyataan. Intinya, kita akan bongkar cerpen ini pakai kacamata Teori Konstruksi Realitas Sosial dari Berger dan Luckmann. 🧐 Momen 'Eksternalisasi': Si Kakek Penjaga Surau dan Vibes Ikhlas yang Ngenes Pernah merasa identitasmu terbentuk karena cara orang lain melihatmu? Nah, ini yang namanya Eksternalisasi . Ini adalah proses d...

Wajah Tunggal yang Mengatur Dunia

Ada banyak orang yang merasa dirinya terlalu jujur untuk bisa bermuka dua. Mereka berkata dengan lantang, “Aku gak bisa pura-pura,” seolah ketidakmampuannya menyembunyikan perasaan adalah bentuk keutamaan moral. Mereka merasa menjadi sosok yang paling tulus, paling apa adanya, paling berani menunjukkan luka. Padahal, tanpa mereka sadari, kejujuran yang mereka banggakan itu sering kali berubah menjadi bentuk halus dari kendali terhadap orang lain. Mereka terbiasa menganggap ekspresi emosi sebagai bukti keaslian diri. Jika marah, harus terlihat marah. Jika kecewa, harus langsung dikatakan. Jika tersakiti, harus segera diungkapkan. Di kepalanya, menahan diri berarti berbohong; diam berarti palsu. Padahal, di dunia yang sesungguhnya, tidak semua emosi pantas diumbar, dan tidak semua kejujuran perlu dibuka tanpa kendali. Ada bentuk kejujuran yang justru tumbuh dari kemampuan menahan diri, dari kesadaran bahwa kebenaran tidak selalu harus diucapkan dengan nada tinggi. Orang yang merasa tidak...

🎭 Panggung Kelas dan Topeng Kekalahan: Sebuah Monolog Elara

Di kursi guru, Elara merasa seperti seorang aktor yang salah kostum. Kepalanya bukan lagi berisi rencana pelajaran, melainkan kabut tebal sisa "audit kinerja" dari para Menteri Senioritas di ruangan sebelah. Mereka datang dengan niat mulia, membawa obor kearifan yang cahayanya terlalu terang sampai membakar telinga. Inti dari dekrit mereka? "Kapten Kapal tidak boleh terlihat menunduk di hadapan Anak Buah." "Nona Elara, kamu adalah arsitek di ladang ini. Jangan biarkan tunas-tunas muda itu menawar fondasi bangunanmu. Kelembutanmu itu bukan empati, tapi tiket gratis bagi kenakalan," begitulah kira-kira terjemahan halus dari titah mereka. Tentu, dia mengangguk. Dia tahu, sebagian dari sifatnya—yang mereka sebut "Jubah Kesabaran"—memang bolong di sana-sini. Ketika dia menyajikan kebaikan sebagai hidangan penutup, siswa malah menganggapnya prasmanan gratis untuk melunjak. Ketika dia mencoba memetik pemahaman dari pohon kenakalan mereka, mereka malah m...