Langsung ke konten utama

πŸ’‘ Bongkar Isi, Struktur, dan Kebahasaan Teks Prosedur SMK XI Hanya dengan 'Main Gambar'!

Menulis merupakan satu dari empat keterampilan  berbahasa yang harus diajarkan kepada siswa mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi. Bagi seseorang yang terampil menulis, sangat bermanfaat untuk mengembangkan dan menata informasi. Dikatakan demikian karena menulis merupakan suatu kegiatan produktif dan ekspresif.  Kegiatan menulis yang produktif satu diantaranya adalah menulis menghasilkan teks prosedur kompleks. Memproduksi teks prosedur adalah satu diantara kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa kelas XI pada semester I (ganjil) pada kurikulum 2013 revisi 2018. Siswa yang mahir memproduksi teks prosedur, dapat di pastikan bahwa siswa tersebut mempunyai pola pikir yang teratur dan runtut. Oleh karena itu, melihat pentingnya pembelajaran menulis teks prosedur ini, maka penulis tertarik untuk melakukan inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran memproduksi teks prosedur.

Berdasarkan data artikel penelitian di sekolah banyak yang menyebutkan perolehan nilai rata-rata hasil belajar siswa di SMK masih belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditentukan. Hal itu disebabkan dalam pembelajaran menulis guru masih menggunakan metode ceramah. Sehubungan dengan permasalahan yang telah dipaparkan, perlu diadakan perbaikan dalam pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif yang bertujuan untuk mengaktifkan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas agar memperoleh hasil yang baik. Salah satu cara yang dapat memperbaiki kondisi tersebut yaitu diperlukannya penggunaan dan pengembangan metode pembelajaran.

Penggunaan metode pembelajaran merupakan upaya guru dalam menciptakan situasi belajar yang harus mampu menumbuhkan berbagai kegiatan belajar bagi siswa sehubungan dengan kegiatan belajar mengajar (Hamdani, 2011:81). Dengan adanya metode pembelajaran yang digunakan, siswa dan guru dapat saling berinteraksi dalam hal pembelajaran, metode pembelajaran merupakan alat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Adapun beberapa macam metode pembelajaran yang dapat digunakan, seperti Picture and Picture, Cooperative Script, Laps-Heuristik, Improve, dan Circuit Learning (Suyatno, 2009:74-75).


Model model tersebut dapat dipakai secara sendiri dalam satu kali pertemuan kelas ataupun penggunaanya dapat digunakan melalui gabungan maupun dengan multi model dalam pembelajaran. Sedangkan menurut penulis metode yang cocok diterapkan sebagai upaya meningkatkan kemampuan menulis siswa dalam mengembangkan teks prosedur adalah metode gabungan antara cooperative script dan picture and picture.

Pembelajaran Cooperative Script adalah pembelajaran yang mengatur interaksi siswa seperti ilustrasi kehidupan sosial siswa dengan lingkungannya sebagai individu, dalam keluarga, kelompok masyarakat, dan masyarakat yang lebih luas (Schank dan Abelson dalam Hadi, 2007). Ahli lain mengatakan bahwa model belajar Cooperative Script adalah model belajar dimana siswa bekerja secara berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Jadi model pembelajaran Cooperative Script merupakan penyampaian materi ajar yang diawali dengan pemberian wacana atau ringkasan materi ajar kepada siswa yang kemudian diberikan kesempatan kepada siswa untuk membacanya sejenak dan memberikan/memasukkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru kedalam materi ajar yang diberikan guru, lalu siswa diarahkan untuk menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dalam materi yang ada secara bergantian sesama pasangan masing-masing (Alit, 2002:203).

Sedangkan Picture And Picture merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. strategi ini mirip dengan sebagai media pembelajaran. Strategi ini mirip dengan Example Non- Example, Example Non- Example, dimana gambar yang dimana gambar yang diberikan pada siswa harus dipasangkan atau diurutkan secara logis. Gambar-gambar ini menjadi perangkat diberikan pada siswa harus dipasangkan atau diurutkan secara logis. Gambar-gambar ini menjadi perangkat utama dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan variasi tahapan-tahapan strategi pembelajaran Cooperative Script, diantaranya adalah MURDER Script (Mood, Understand, Recall, Detect, Elaborate, Review) (Jacobs, dkk, 1996). Mood merupakan tahap kesepakatan untuk menentukan aturan yang digunakan dalam berkolaborasi, misalnya memberikan isyarat jika terjadi kesalahan dalam menyampaikan ide-ide pokok seperti menepuk bahu atau dengan isyarat suara atau dengan yang lainnya. Understand merupakan tahap membaca untuk memahami isi teks dalam waktu tertentu. Recall merupakan tahap membuat ringkasan ide-ide pokok dari materi, dan selanjutnya menyampaikan kepada pasangannya. Detect merupakan menemukan kesalahan dari ringkasan dan penyampaian pasangannya. Elaborate merupakan tahap menguraikan hasil ringkasan materi dari peserta didik kepada pasangannya. Review merupakan tahap kedua pasangan mencari hubungan ide-ide pokok materi dengan kehidupan nyata siswa, ide lain yang pernah dipelajari, pendapat tentang materi, dan reaksi emosional atau respon terhadap ide-ide pokok materi.

Di samping itu, sintaks model pembelajaran Picture and Picture meliputi: guru menampaikan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai, guru memberikan materi pengantar sebelum kegiatan, guru menyediakan gambar gambar yang akan digunakan berkaitan dengan materi, guru menunjuk siswa secara bergilir untuk mengurutkan atau memasangkan gambar-gambar yang ada, guru memberikan pertanyaan mengenai alasan siswa dalam menentukan urutan gambar, dari alasan tersebut guru akan mengembangkan materi dan menanamkan konsep materi yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.

Kombinasi dari kedua model pembelajaran inovatif Cooperative Script dan Picture And Picture dapat diimplementasikan sebagai berikut: Guru membagi siswa untuk berpasangan, Guru membagikan wacana/materi teks prosedur dengan aturan siswa 1 membawa materi struktur teks prosedur dan siswa 2 membawa materi kaidah kebahasaan dalam teks prosedur,  materi yang diberikan pada tiap siswa untuk dibaca dan dibuat ringkasannya, Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar, Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya, sementara pendengar menyimak mengoreksi menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya, Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, Guru membantu siswa menyusun kesimpulan. Setelah selesai memahami isi, struktur, dan kebahasaan dari teks prosedur yang telah didapatkan dari teman sepasang, barulah penugasan diberikan secara berkelompok. Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok dengan diberi tugas membuat sebuah teks prosedur yang dikembangkan menjadi urutan gambar-gambar dan dipresentasikan.

Dari strategi dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah penulis paparkan diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan rekan guru yang ingin menerapkan metode dan model pembelajaran tersebut dikelas, terutama dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada kompetensi dasar yang menuntut siswa mengembangkan teks prosedur dengan memerhatikan hasil analisis terhadap isi, struktur, dan kebahasaan untuk SMK kelas XI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

πŸ’” Gagal Paham Ibadah Gara-Gara Kakek-Kakek di Surau? Belajar Realita dari Cerpen Jadul! 🀯

Cerita pendek atau cerpen itu lebih dari sekadar tumpukan kata fiksi. Itu adalah cermin mini dari kehidupan kita, lengkap dengan segala drama, konflik, dan pertanyaan eksistensial. Kalau kamu anak muda yang suka scroll TikTok sambil mempertanyakan makna hidup, atau mungkin lagi bingung membedakan antara tujuan dan tuntutan hidup, coba deh tengok cerpen klasik Indonesia, "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis . Dengerin baik-baik: cerpen jadul ini ternyata punya pelajaran super relatable buat kita soal realitas sosial —kenapa kita berpikir seperti sekarang, kenapa lingkungan membentuk kita, dan kenapa kadang idealisme kita bertabrakan sama kenyataan. Intinya, kita akan bongkar cerpen ini pakai kacamata Teori Konstruksi Realitas Sosial dari Berger dan Luckmann. 🧐 Momen 'Eksternalisasi': Si Kakek Penjaga Surau dan Vibes Ikhlas yang Ngenes Pernah merasa identitasmu terbentuk karena cara orang lain melihatmu? Nah, ini yang namanya Eksternalisasi . Ini adalah proses d...

Wajah Tunggal yang Mengatur Dunia

Ada banyak orang yang merasa dirinya terlalu jujur untuk bisa bermuka dua. Mereka berkata dengan lantang, “Aku gak bisa pura-pura,” seolah ketidakmampuannya menyembunyikan perasaan adalah bentuk keutamaan moral. Mereka merasa menjadi sosok yang paling tulus, paling apa adanya, paling berani menunjukkan luka. Padahal, tanpa mereka sadari, kejujuran yang mereka banggakan itu sering kali berubah menjadi bentuk halus dari kendali terhadap orang lain. Mereka terbiasa menganggap ekspresi emosi sebagai bukti keaslian diri. Jika marah, harus terlihat marah. Jika kecewa, harus langsung dikatakan. Jika tersakiti, harus segera diungkapkan. Di kepalanya, menahan diri berarti berbohong; diam berarti palsu. Padahal, di dunia yang sesungguhnya, tidak semua emosi pantas diumbar, dan tidak semua kejujuran perlu dibuka tanpa kendali. Ada bentuk kejujuran yang justru tumbuh dari kemampuan menahan diri, dari kesadaran bahwa kebenaran tidak selalu harus diucapkan dengan nada tinggi. Orang yang merasa tidak...

🎭 Panggung Kelas dan Topeng Kekalahan: Sebuah Monolog Elara

Di kursi guru, Elara merasa seperti seorang aktor yang salah kostum. Kepalanya bukan lagi berisi rencana pelajaran, melainkan kabut tebal sisa "audit kinerja" dari para Menteri Senioritas di ruangan sebelah. Mereka datang dengan niat mulia, membawa obor kearifan yang cahayanya terlalu terang sampai membakar telinga. Inti dari dekrit mereka? "Kapten Kapal tidak boleh terlihat menunduk di hadapan Anak Buah." "Nona Elara, kamu adalah arsitek di ladang ini. Jangan biarkan tunas-tunas muda itu menawar fondasi bangunanmu. Kelembutanmu itu bukan empati, tapi tiket gratis bagi kenakalan," begitulah kira-kira terjemahan halus dari titah mereka. Tentu, dia mengangguk. Dia tahu, sebagian dari sifatnya—yang mereka sebut "Jubah Kesabaran"—memang bolong di sana-sini. Ketika dia menyajikan kebaikan sebagai hidangan penutup, siswa malah menganggapnya prasmanan gratis untuk melunjak. Ketika dia mencoba memetik pemahaman dari pohon kenakalan mereka, mereka malah m...