Pernah nggak sih lo duduk diam, terus mikir, kenapa rasanya pria dan wanita itu seperti datang dari planet yang berbeda, terutama saat sebuah hubungan retak karena pengkhianatan? Gue sering banget. Gue lihat pola yang aneh tapi konsisten. Seolah-olah kita memegang buku peraturan yang beda, membaca peta yang tak sama, meski tidur di ranjang yang sama.
Ini bukan soal siapa yang lebih baik atau lebih buruk. Ini soal bagaimana luka menggores kita dengan cara yang berbeda, dan bagaimana kita mencoba menyembuhkannya dengan cara yang sering kali malah saling menyakiti lebih dalam.
Paradoks Pengampunan dan Pembalasan Dendam
Mari kita jujur pada skenario yang sering kita dengar, bahkan mungkin kita lihat.
Seorang wanita, diselingkuhi oleh pasangannya. Dunia seakan runtuh. Tapi kemudian, ada bisikan—bukan cuma dari teman, tapi mungkin dari logika internalnya sendiri: “Tapi dia mapan. Hidupmu terjamin. Anak-anak?” Pada akhirnya, dengan hati yang remuk, banyak yang memilih untuk memaafkan. Bukan karena perselingkuhan itu jadi sepele, tapi karena kalkulasi pragmatis. Dari kacamata psikologi evolusioner, ini bisa dibaca sebagai sisa-sisa insting purba di mana kelangsungan hidup dan keamanan (stabilitas sumber daya) menjadi prioritas utama bagi seorang perempuan untuk melindungi dirinya dan keturunannya. Pengampunan di sini bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah strategi bertahan hidup yang kompleks, di mana keamanan finansial menjadi plester penutup luka emosional yang menganga.
Sekarang, kita balik situasinya. Seorang pria diselingkuhi. Apa yang terjadi? Pengampunan terasa seperti pilihan yang mustahil. Bagi seorang pria, perselingkuhan wanita bukan hanya soal patah hati; ini adalah serangan langsung pada ego dan maskulinitasnya. Psikologi evolusioner lagi-lagi berbicara di sini: ketidakpastian paternal (keraguan apakah anak yang ia besarkan adalah darah dagingnya) adalah ketakutan terbesar seorang pria secara biologis. Perselingkuhan merobek validasi dirinya sebagai "pria terpilih".
Lalu apa responsnya? Pembalasan dendam. "Main cewek lain atau pakai LC," seperti yang sering kita dengar. Ini bukan sekadar balas dendam emosional, tapi sebuah upaya putus asa untuk merebut kembali validasi yang hilang. Dengan menaklukkan wanita lain, ia seolah-olah berteriak pada dunia (dan pada dirinya sendiri): "Lihat, aku masih diinginkan. Aku masih seorang pria." Ini adalah mekanisme pertahanan yang destruktif, sebuah cara keliru untuk menyembuhkan luka ego yang dalam.
Kita melihat dua jenis luka di sini. Bagi wanita, sering kali lukanya adalah pengkhianatan terhadap keamanan dan ikatan emosional. Bagi pria, lukanya adalah penghancuran ego dan status hierarki. Keduanya sama-sama sakit, tapi sumber dan manifestasinya berbeda.
Anatomi Trauma yang Berbeda Arah
Perbedaan ini merembet ke cara kita mendefinisikan dan merasakan trauma.
Bagi pria, seperti dalam skenario tadi, trauma terbesarnya sering kali adalah trauma dikhianati. Ironisnya, indikator perselingkuhan itu sendiri sering kali abu-abu baginya. Chat dengan teman lama? Terlalu ramah dengan rekan kerja? Ketidakjelasan inilah yang menyiksa, menciptakan hipervigilans dan kecemasan konstan. Ia trauma pada perasaan "dibuat bodoh", pada kemungkinan bahwa di belakangnya, realitas yang ia yakini sedang dihancurkan. Trauma ini menyerang pikirannya, logika, dan rasa percayanya pada dunia.
Di sisi lain, trauma terbesar bagi banyak wanita adalah trauma pelanggaran batas fisik dan pelecehan. Ini adalah trauma yang mengakar di tubuh. Rasa takut saat berjalan sendirian di malam hari, ketidaknyamanan saat seseorang berdiri terlalu dekat, atau ingatan akan sentuhan yang tidak diinginkan. Ini adalah trauma tentang hilangnya otonomi atas tubuh sendiri. Rasa aman fisiknya direnggut.
Dan di sinilah tragedi terbesar dalam komunikasi kita terjadi. Saat seorang wanita yang trauma ini berkata "tidak" pada pasangannya, ia sedang melindungi dirinya dari pemicu trauma. Ia sedang menjaga batas tubuhnya yang pernah dilanggar. Namun, pria yang tidak memahami bahasa trauma ini—dan mungkin sedang bergulat dengan traumanya sendiri soal penolakan—menerjemahkannya secara berbeda.
“Kalau gak mau seks, berarti gak sayang.”
Kalimat ini adalah jembatan yang runtuh. Di satu sisi, ada wanita yang berteriak, "Tolong, hormati batas tubuhku dan rasa takutku!" Di sisi lain, ada pria yang mendengar, "Kamu tidak lagi kuinginkan," yang langsung menyengat luka egonya. Ia gagal melihat bahwa ini bukan tentang menolak dirinya, tapi tentang respons trauma pasangannya. Ia tidak bisa membedakan antara niatnya (menunjukkan cinta lewat keintiman fisik) dan dampaknya (memicu ketakutan dan rasa tidak aman pada pasangannya).
Pria trauma pada pengkhianatan yang menyerang logika dan egonya. Wanita trauma pada pelanggaran yang menyerang tubuh dan rasa amannya. Keduanya nyata, keduanya valid. Masalahnya, kita sering kali buta terhadap peta trauma pasangan kita.
Menemukan Bahasa yang Sama
Jadi, apakah kita ditakdirkan untuk terus salah paham? Gue harap tidak.
Semua pola ini—pragmatisme wanita, ego pria, definisi trauma yang berbeda—bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Ini adalah "pengaturan default" kita yang dibentuk oleh biologi, evolusi, dan konstruksi sosial selama ribuan tahun.
Kuncinya bukan menyalahkan siapa yang salah, tapi mulai belajar membaca peta pasangan kita. Pria perlu belajar bahwa cinta dan keamanan bagi wanita bukan hanya soal materi, tapi juga tentang rasa aman secara emosional dan fisik. Bahwa penolakan intimasi bisa jadi adalah jeritan minta tolong, bukan penolakan cinta.
Wanita juga mungkin perlu memahami bahwa di balik amarah dan pembalasan dendam pria yang diselingkuhi, ada kerapuhan ego yang luar biasa. Bahwa baginya, kesetiaan sering kali diterjemahkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
Pada akhirnya, kita semua hanya manusia yang terluka dan mencoba bertahan. Berhenti menggunakan peta kita sendiri untuk menavigasi perasaan orang lain. Mungkin sudah saatnya kita duduk bersama, membentangkan kedua peta itu di atas meja, dan dengan sabar berkata, "Oke, jelaskan padaku di mana letak lukamu."
Komentar
Posting Komentar