Langsung ke konten utama

Postingan

Masih Pagi? Tidur Lagi Sajalah!

Banyak sekali manusia jaman sekarang, utamanya generasi penerus bangsa millenial yang masih meremehkan bangun pagi. Padahal, bangun pagi sangat bermanfaat bagi kesehatan otak juga kesehatan fisik. Hal ini dipicu karena sifat ‘malas’ yang masih merajalela dalam diri. Seharusnya sifat ini sudah harus mulai dihilangkan sejak dini. Bayangkan saja bila seorang mahasiswa karena tidak ada budaya bangun pagi dalam rumah, maka tugas akan keteteran atau tidak selesai. Dikarenakan kurangnya bisa memanajemen waktu untuk tidur malam maupun tidur pagi. Sehingga tidak dapat pula membagi waktu kapan untuk mengerjakan tugas dan kapan untuk istirahat. Sebenarnya, tidur pada pagi hari pun tidak dianjurkan. Hal ini menyebabkan dampak yang signifikan dibandingkan dengan orang yang senantiasa bangun lebih pagi karena sudah terbiasa. Orang yang biasa bangun pagi, semangat untuk mencari kebaikan menjadi lebih tinggi. Dibandingkan dengan seorang pemalas yang kerjanya hanya makan, tidur, sekolah, pulang,...

Puisi Oktaf : Tanya Penuh Kisah

Selamat malam wahai kau sahabatku Aku datang padamu membawa beribu tanya penuh kisah Kamu tau seberapa bencinya semesta padaku? Jika hanya ada 1000 manusia bijak Maka aku pengecut ke 1001 Mungkin itu yang menjadi alasan Di kala sukma dan raga ingin bertemu Tapi semesta tak mengijinkan Apakah kamu tahu rasanya merindu? Rasanya tak rasional saja merindukan sosok sahabat Yang tangis dan tawanya saja terbawa dalam rindu Dan semesta seperti cinta tak bisa disalahkan Ketika persahabatan kita berkarat dihempas waktu Dan ketika sebuah pertemuan layaknya hari pengampunan Kita bertatap diantara kata-kata bisu Maka aku hanya bisa menangis haru

Puisi Tema Kebudayaan : Semailah Budayaku

Nuansa indah yang telah kau berikan Membuat kami terus dan terus menjagamu Membina rasa kasih dan sayang Dan akan selalu begitu Rasa ini tak akan pernah pudar Meski seiring berjalannya waktu Hembusmu akan selalu datang Hingga nanti kita bersatu Budayaku akan terus membara Dan tanpa henti hingga anak cucu Asalkan kita selalu semaikannya Dan membuatnya terus membatu

Pacaran di Kalangan Pelajar: Fenomena yang Patut Dikaji Ulang

Sekedar menyampaikan pendapat aja, mengingat negara kita negara yang demokratis bukan? Kali ini gua bahas tentang ‘pacaran’. Ya, dewasa ini sesuatu yang kerap disapa ‘pacaran’ itu makin aneh saja. Dia mulai mengincar para pelajar generasi penerus bangsa. Sejauh yang gua tau, pacaran itu dilakukan sesudah menikah kan? Atau mungkin, mereka yang ‘berpacaran’ itu sudah menikah beberapa kali? Heran deh, segitu gampangnya mereka ‘putus-nyambung-putus-nyambung’. Lebih parahnya, ada yang udah putus terus dapet lagi yang baru. WTF! Apa mereka pikir ‘pacaran’ itu semudah ganti baju tiap 2 kali sehari? Okelah, mungkin bagi sebagian besar manusia di muka bumi itu ‘wajar’. Bagi mereka, mungkin ‘pacaran’ itu suatu tahap penjajakan sebelum mereka melangkah ke jenjang yang lebih serius. Dan mungkin, hanya satu-dua orang saja yang setuju dengan pendapat gua ini. Lagipula, bukannya gua kontra dengan keputusan ‘pelajar’ yang lebih memilih untuk ‘koleksi mantan/pacar’. Tapi, bisakah jangan sekarang (saa...

Menangis Diantara Hujan

Menangis diantara hujan... Mencoba sembunyikan sejuta angan... Dan hanya terpendam dalam kepedihan... Dengan hanya dihiraukan... Tetapi tidak dipedulikan... Saat mendekati... Semua orang merubah diri... Entah salah apa yang telah diperbuat... Dia ditakdirkan untuk beradaptasi... Namun satu kekurangan saja... Tidak dapat menolongnya lagi... Menangis diantara hujan... Mungkin hanya itu sekarang... Yang bisa dia lakukan...

Sejak Sesuatu Itu Datang...

Melihatnya lagi... Tak tahu kapan harus berhenti... Mengharapkan khayalan itu... Membuat hati jadi beku... Saat ini pun... Kemungkinan adalah pedoman... Seakan tak percaya akan kepastian... Sesuatu membuat hati melupakan... Adanya kepastian..! Sesuatu juga yang membuat hati... Berpangku tangan pada angan..! Karena memang... Hanya kemungkinanlah yang membuat rasa.. Bahagia maupun duka...! Sejak sesuatu itu datang... Dan membuat perasaan nyata.. Menjadi hilang...! Entah kenapa... Semua berubah hilang... Sejak sesuatu itu datang...

Hitam Dibalik Putih

Tinta hitam dibalik kertas putih... Sulit redam amarah hati... Bila ia bertanya... Kapankah tinta itu memudar..? Itu noda...! Bak hati yang telah dilukai... Entah kapan noda itu pudar... Hanya Ilahi-Lah yang mengetahui... Saat ia bertanya... Bagaimana noda itu ada...? Pikirkanlah dalam keadaanku saat ini...! Aku harap... Dia tidak bertanya lagi...! Karena seseriusnya... Dialah yang membuat noda itu ada...!